![]() |
| Pemandangan Pelabuhan Palopo di Sore Hari |
Gak terasa sudah hampir setahun meninggalkan ibukota (lagi) untuk mendampingi suami yang pindah dinas. Bener-bener gak terasa karena ternyata waktu berlalu begitu saja. Awal pindah banyak sekali yang merasa kasihan karena harus kembali merantau ke tempat yang sangat jauh dari kampung halaman. Mereka merasa kasihan, tapi padahal buat gue pribadi ini menyenangkan kwkwkwkw. Karena memang dulu waktu gadis punya cita-cita bisa keliling Indonesia, dan terwujud jalur menikah dengan suami yang memang pekerjaannya berpotensi di mutasi.
Meski sudah setahun, masih inget banget waktu berdoa depan Kabah setahun lalu. Jujurly bosen banget tinggal di Jakarta dengan drama-dramanya. Suami punya niat mau ambil S2 ke luar negeri jalur beasiswa. Tapi prosesnya yang luamaaaaaaaa banget, plus mulai kepikiran nih di otak overthingking gue kalau saat ini dengan kondisi anak-anak yang sudah mulai sekolah kayaknya bukan waktunya "mengurangi pemasukan" dan "Menambah pengeluaran" hahaha. Karena kan memang kalau sekolah lagi, pemasukan tentunya tidak lagi utuh. Di tambah otak gue yang butuh kepastian, melihat proses yang udah setahun lebih ini kayak gak ada progres mulailah gelisah dan OVT. Belum lagi, untuk ikut tes ini dan itu, plus les ini dan itu ternyata ada pengeluaran tambahan. Jadilah manusia OVT ini berdoa "Ya Allah bosen banget nih di Jakarta, tapi kalau memang Engkau takdirkan untuk pindah, lewat jalur kenaikan jenjang aku lebih Ridho daripada suami sekolah lagi."
Seminggu setelah pulang Umroh, tiba-tiba suami kasih info ada penawaran pindah ke Ambon. Gak pakai pikir-pikir "Kuy bungkus Yah." Tapi ternyata pindahnya ke Palopo, sebuah kota yang gak pernah tuh lewat di pengetahuan geografi gue kwkwkw. Tapi tenang kan ada Google hahaha.
Ternyata palopo itu jauuuuuuuh beut, but beautiful city. Dari Makassar masih 8-10 jam perjalanan darat, bisa sih naik pesawat kecil. Tapi buat gue gak masuk opsi karena masih inget perjalanan Balikpapan-Palu naik pesawat kecil, sangat tidak ramah jantung hahaha.
Palopo kota kecil di Sulawesi Selatan. Meski kecil, siapapun yang pernah ke Palopo pasti setuju kalau perekonomian di kota ini hidup. Meski tidak sehidup Jakarta atau Makassar, beberapa hal mudah ditemukan di Palopo. Definisi slow living tuh ada banget di Palopo. Selama di Palopo mau kemana-mana itu dekeeeeet banget. Gak ada macet geees. Mau ke Pantai, Gunung, Atau air terjun itu semuanya deket banget dari rumah. Literally dekat banget gak sampai 5km dari rumah semua itu ada. Sampai-sampai kata teman gue tiap hari kayak liburan terus.
Hal lain yang menyenangkan di Palopo adalah harga-harga murah, terutama ikan. Gue si pecinta seafood sungguh bahagia belanja ikan segar dengan harga murah tiap hari. Malah disini tuh ada masakan khasnya namanya Lawa Ikan. Dan itu adalah sashiminya orang Palopo. Enak banget geeees.
Btw setahun sebelum pindah ke Palopo kayak punya mimpi banget bisa tinggal di Desa, punya rumah kecil tapi halaman luas. Karena emang pada saat itu lagi suka banget berkebun, ternak ayam dan Lele di lahan terbatas. Jadi kepikiran keknya gue gak butuh rumah besar, rumah kecil aja tapi halamannya luas. Dan ternyata Allah kasih icip dulu selama tinggal di Palopo.
Rumah dinas fasilitas kantor suami berdiri di atas lahan hampir 10.000 m2, alias hampir satu hektar. Rumahnya sih kecil aja minimalis. Persis seperti yang gue cita-citakan. Yups awal-awal gue mulai berkebun, menanam cabe dan berbagai sayuran. Tapi karena capek dengan kerjaan rumah (tanpa art) dan 'putus asa' dengan rumput liar yang cepet banget tumbuh, akirnya belakangan kebun gue terbengkalai hahaha. Panas banget juga bestie berkebun disini kwkwkw.
Jadi 6 bulan belakangan ini, di waktu luang gue biasanya pakai buat rebahan dan scroll sosmed. Tapi sepertinya kegiatan tidak produktif sangat-sangat tidak baik buat gue. Manusia yang otak dan fisiknya sibuk. Entah kenapa ketidak produktifan yang gue anggap slow living ini ternyata tidak baik buat gue.
Hidup santai, tidak banyak beban, dan berada di zona nyaman gue rasa itu mimpi semua orang bukan? Enak kan sesungguhnya bisa santai-santai setiap hari scroll sosmed mencari express dopamin? Tapi ternyata kelamaan rebahan bukan hal yang baik buat tubuh gue.
Apalagi belakangan kayak merasa otak gue jadi pengkhianat bagi diri sendiri. Loh kok bisa?
Setiap gue mulai ngajak otak diskusi untuk doing something, diwaktu itu pula otak gue melakukan hal sebaliknya. Misal gue berbicara dengan otak "Kan kita dah punya stok kopi banyak nih, punya juga moccapot buat bikin kopinya. Kurang-kurangin jajan kopi yuuuk." Tapi ternyata keinginan jajan kopi di hari itu malah semakin kuat, hiks!
Atau misalnya gue bilang ke otak "Hari ini kita beres-beres rumah yuuuk, udah kek kapal pecah ini." Dan keinginan buat rebahan scroll sosmed malah semakin kuat di hari itu.
Kalau sudah begini apa yang gue rasakan? Frustasi ges, sangat frustasi. Sebetulnya pengen banget cari bantuan profesional, tapi gue belum percaya sama fasilitas kesehatan di sini hahahaha. Akhirnya sih yang gue lakukan curhat sama sahabat yang emang psikolog.
Gue merasa Happy tapi Unhappy. Nah kelen bingung kan? Kwkwkw... Kalau gue curhat ke sembarang orang pasti udah di cap "Tydack Bersyukur Anda!" Kwkwkw. Bersyukurnya gue punya sahabat satu ini, bahkan dulu awal-awal nikah kalau konflik sama suami gue suruh konsul ke doi gimana cara menasehati gue tanpa menyakiti. Karena gak tau kenapa kalau sahabat gue ini yang ngomong kagak ada tersinggungnya gue kwkwkw.
Jadi apa yang disampaikan sahabat gue ada benernya sih. Jadi doi bilang di era dopamin express ini manusia jadi cepet merasakan bosan. Karena dulu kita untuk mendapatkan sesuatu effort nya luar biasa. Misal mau nilai bagus, belajar kelompok, latihan soal, ikut les etc. Karena proses menuju senang itu sendiri menjadi bagian dari rasa senang karena kompetensi kita bertambah. Jadi rasa senang yang di hasilkan lebih long lasting. Hari ini semua dibuat lebih mudah, sehingga semakin mudah bosan, semakin merasa flat, hampa.
Gue disarankan cari program yang sedikit butuh effort gue buat disiplin. Kalau memungkinkan lebih formal. Karena gue cepat bosan, jadi butuh komitmen pengikat kwkwkw. Apa gue kuliah lagi aja yak? Mayan kan buat menyelesaikan S1 yang gak jadi kwkwkw. Tapi... Takut banget gak kelar lagi karena bosan kwkwkw.
Sejauh ini komitmen yang berhasil gue jalanin secara long lasting cuma pernikahan kwkwkw. Pernah coba kerja di penerbit, niatnya cuma buat eksplorasi diri aja sih. Kerja senin-jumat WFO seminggu dua kali sisanya dirumah. Awal-awal hepi karena kerjaannya itu bikin buku anak. Tapi dua bulan kemudian bosan, selain karena rutinitas karena ada persoalan internal di kantor yang kayak gak ada ujungnya. Bertahan di 4 bulan karena performa turun kwkwkw.
Hari ini di antara kejenuhan, gue mencoba kembali menulis Blog. Lama banget woi ini blog gak di sentuh kwkwkwkw. Mencoba menulis kembali di tengah mental block. Sampai saat ini pengen banget bisa kembali menulis fiksi. Karena udah 11 tahun sama sekali gak bisa nulis fiksi lagi. Yah Well bisa nulis curhatan lagi di blog setidaknya sebuah pencapaian. Pengen banget bisa nulis rutin lagi di blog, tapi khawatir otak kembali berkhianat kwkwkw.
Tulisan ini saja berhasil diselesaikan selama 4 jam diantara distraksi scrolling sosmed, game hahaha.



















