Follow Us @curhatdecom

Kamis, 21 Januari 2021

Seperti Inilah Beragam Manfaat ASI Eksklusif Untuk Bayi

08.25.00 0 Comments

Pada dasarnya, ASI eksklusif memang harus diberikan pada bayi sejak lahir ke dunia hingga usianya 6 bulan. Selama periode tersebut, disarankan bagi para ibu menyusui untuk memberi ASI eksklusif saja tanpa tambahan asupan lainnya. Pasalnya, cairan ASI eksklusif yang diproduksi secara alami dari tubuh wanita ini memang kaya akan kandungan nutrisi, sehingga sangat bagus untuk mendukung tumbuh kembangnya si kecil. Adapun mengenai kandungan nutrisi yang dimilikinya seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan lemak. Lalu, seperti apa sajakah manfaat ASI eksklusif untuk bayi? Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi, mending kita simak saja langsung ulasannya di bawah ini yang dilansir dari website parenting di indonesia.

1. Melindungi Bayi Dari Kuman

Manfaat ASI eksklusif pertama untuk bayi, yakni dapat melindungi tubuhnya dari serangan kuman. Pasalnya, saluran cerna pada bayi yang baru lahir itu masih dihuni oleh bakteri. Itu sebabnya, mengapa pemberian ASI eksklusif pada bayi yang baru lahir sangatlah penting. Bukan hanya itu, ASI juga kaya akan kandungan protein yang dapat melindungi bayi dari kuman, sehingga mampu meminimalisir risiko beragam penyakit kronis seperti radang paru-paru hingga mempercepat proses pertumbuhan.

2. Dapat Meningkatkan Kecerdasan Otak Anak

Perlu bunda ketahui, bahwa di dalam ASI itu terkandung asam lemak yang begitu penting guna mendukung perkembangan otak anak. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, ASI mampu membantu perkembangan sensorik serta kognitif pada bayi lho. Tentunya pemberian ASI eksklusif sangatlah penting pada bayi berusia 6 bulan, karena perkembangan otaknya terjadi paling pesat pada 5 tahun pertama hidupnya.

3. Mampu Mencegah Diare dan Malnutrisi

Bayi yang baru lahir itu sangat rentan terhadap serangan penyakit, dikarenakan system kekebalan tubuhnya belumlah sempurna. Pemberian ASI eksklusif mampu melindungi tubuh bayi dari penyakit yang berkaitan dengan system imun tubuh seperti diare, bahkan hingga mencukupi kebutuhan nutrisinya yang dapat menghindari risiko malnutrisi (kekurangan gizi).

4. Memperkuat Ikatan Emosional Bayi dan Ibu

Berdasarkan dari hasil penelitian, ibu yang menyusui ASI secara langsung akan lebih sensitive terhadap isyarat bayinya. Hal itu dikarenakan ibu menyusui cenderung lebih menyentuh, membelai, hingga menatap bayinya dengan lama. Alhasil, hal itu akan menciptakan bonding antara ibu dan bayi menjadi lebih  erat.

5. Dapat Mengurangi Risiko Kanker

Tak hanya bermanfaat untuk bayi, ternyata pemberian ASI eksklusif juga bermanfaat bagi ibu menyusui lho. Hal itu pun dibenarkan oleh beberapa penelitian, yang menyebutkan bahwa pemberian ASI eksklusif mampu mengurangi risiko terhadap penyakit kanker tahim dan kanker payudara. Pasalnya, saat si kecil menyusui maka sel-sel payudaranya akan rutin akan memproduksi ASI sehingga kecil kemungkinan terjadi penyimpangan kinerja sel. Bukan hanya itu, ibu menyusui juga mempunyai kadar hormone estrogen yang lebih rendah akibat berkurangnya frekuensi menstruasi, sehingga dapat mengurangi risiko penyakit kanker.

6. ASupan Yang Higienis dan Aman

Seperti yang sudah disebutkan pada ulasan diatas tadi, bahwa ASI eksklusif merupakan cairan yang diproduksi secara alami oleh tubuh wanita. Tentu saja ASI sudah terjamin higienis dan aman dikonsumsi oleh si kecil ketimbang menggunakan susu formula. Pasalnya, susu formula diproses melalui beragam peralatan sehingga rentan tercemar oleh bakteri dari air, maupun botol susunya yang tidak bersih.

Demikanlah ulasan singkat mengenai beberapa manfaat dari ASI eksklusif untuk bayi, sehingga bisa bunda jadikan sebagai penambah wawasan. 

 

Sabtu, 09 Januari 2021

Tips Sebelum Melakukan SwabTest

15.58.00 0 Comments

Nemenin suami yang mau swab antigen 


Beberapa waktu lalu untuk kelengkapan syarat melahirkan, gue di haruskan menjalani swab test. Sebetulnya kalau boleh memilih, pengennya sih gak pakai swab test segala. Selain gak siap dengan efeknya yang katanya menyakitkan, bikin bersin-bersin berhari-hari atau bahkan sampai berair mata, ketakutan terbesar gue adalah melihat hasilnya. 

Walaupun sudah menjalani protokol kesehatan ketat, khawatir kecolongan. Banyak kan kasusnya yang dia gak kemana-mana, gak kontak langsung dsb tau-tau positif. Tapi kalau memang ternyata ada tanda-tanda kemungkinan Terinfeksi menghindari test adalah tindakan tidak bertanggung jawab. 

Setelah gue akhirnya melakukan test swab, meski gak nyaman prosesnya, tapi ternyata gak semengerikan itu loh. Tempat gue melakukan Test Swab juga sangat terjaga sehingga gak khawatir tertular dari peserta test lainnya. 

Nah buat kalian yang mau melakukan test swab, coba simak tips berikut ini ya... 

Survey dahulu Providernya

Ini penting ya, jangan sampai tempat test swab nya "abal-abal". Jaman sekarang gak sulit loh mencari riview dan testimoni dari sebuah provider. Jangan sampai kita kecewa dengan pelayanan dan bahkan hasil yang gak valid karena tidak profesional saat pengambilan sampel. 

Bahkan ada loh provider yang protokol kesehatan nya asal. Malah bisa jadi cluster baru karena banyaknya orang berkerumun.

Update Informasi 

Gue termasuk yang gak update soal swab test karena dulu sama sekali gak berniat melakukan test. Dan ternyata banyak ragam test untuk mengetahui ada tidaknya virus covid-19 di tubuh kita. Dulu gue taunya rapid aja. Ternyata perkembangannya sekarang ada beberapa jenis test. 

Bahkan sempat rancu di kalangan tetangga gue saat ada yang keluarganya positif dan melakukan swab mandiri. Karena alatnya mirip alat rapid tapi katanya pengambilan sampel nya bukan darah melainkan di swab/usap. Ternyata test yang di maksud rapid antigen.

Dengan update informasi kita juga bisa tahu kalau ternyata pemerintah menerapkan batas atas harga pelaksanaan test. 

Pilih Test yang Tepat

Beberapa waktu lalu saudara yang bekerja sebagai tenaga kesehatan sharing, kalau sebelum nya pernah positif covid-19 dan sudah sembuh, jika ingin melakukan test lagi sebaiknya pilih swab pcr. Sebab jika yang di pilih rapid hasilnya akan reaktif karena imun tubuh sudah terbentuk. Jadi daripada buang-buang biaya karena harus test dua kali, sebaiknya ketahui dulu informasi ini. 

Tenang Saat Pengambilan Sampel

Jangan panik saat pengambilan sample. Ikuti arahan dari petugas. Karena kalau sampai panik bisa-bisa semakin tidak nyaman dan bahkan bisa gagal mengambil sampel.

Nah semoga tips dari gue ini membantu kalian ya guys. Semoga kita semua diberikan kesehatan. Jangan lupa protokol kesehatan diri dan keluarga dijaga. 

Jumat, 08 Januari 2021

Jangan Remehkan Menejemen Jika Buka Warung Kecil di Rumah

07.19.00 0 Comments

 

Sumber gambar pixabay

Menjadi ibu rumah tangga biasa, terkadang suka ngiri dengan kehidupan wanita karir yang selain bisa mengembangkan dirinya (bukan tambah gendut yak maksudnya hihihi) juga memiliki penghasilan sendiri. Kadang suka gerah juga kalau ditanya “kok gak kerja” atau dapat nyinyiran “enak ya, Cuma jadi Ibu rumah tangga mengandalkan gaji suami aja”. Eh eh eh eh udah udah stop. Jangan malah memancing mom war kwkwkw. Intinya bukan gak bersyukur Cuma yakan terkadang rumput tetangga memang lebih terlihat hijau kwkwkw.

Tapi kalau memang ingin punya penghasilan sendiri, jaman sekarang tuh hampil gak mustahil kok meski full jadi ibu rumah tangga. Bisa jualan online, jualan kue, nulis, atau kalau punya modal lumayan bisa buka warung kecil-kecilan dirumah.

Meski tidak terkesan prestise, jangan kira toko klontong tidak dapat menghasilkan. Bahkan dengan menejemen seadanya, Emak gue bisa menambah pemasukan rumah tangga sampai 4 anaknya bisa kuliah semua. Adik bungsu gue saat baru lulus kuliah dan belum bekerja pun sempat mengelola warung emak sampai dua tahun. Bahkan dengan merapihkan menejemen berdagang dan disiplin keuntungan warung bisa terlihat nyata.

Kata si bungsu, sebetulnya nyaman banget ngurus warung Emak. Selain nyantai, sebulan tabungan bersihnya bisa mencapai tiga juta rupiah. Padahal sudah “foya-foya” untuk bayar listrik, sekolah keponakan, internet, pulsa, dan makan siang online setiap hari hahaha. Tapi akhirnya “diusir” sama emak karena di nyinyirin tetangga “sarjana kok jualan warung”. Padahal si bungsu lagi bersiap untuk merekrut karyawan biar kerjaannya lebih ringan di warung. Sekarang sih anaknya alhamdulillah tambah sukses membangun pabrik roti dan memiliki 9 karyawan. Pabrik yang dibangunnya dari tabungan selama mengurus warung.

Nah coba deh tips dari si Bungsu ini jika kalian memang ingin punya warung kecil-kecilan di rumah

Jual yang dibutuhkan pembeli bukan yang kita inginkan

Sebelum dikelola si bungsu, kakak tertua gue juga sempat mengelola warung saat emak sakit. Banyak barang dia beli untuk dijual lagi tanpa mempertimbangkan akan laku dijual atau tidak. Katanya ingin terlihat bonafit warungnya seperti minimarket. Tapi kemudian barang dagangannya malah tidak laku. Catat barang yang sering dicari pembeli, jika banyak peminat tidak ada salahnya kita tambahkan ke etalase

Tetapkan keuntungan produk stabil agar harga stabil dan tidak kemahalan atau kemurahan

Gunakan persentase untuk menentukan harga jual. Biasanya keuntungan dari tiap produk bekisar 20-30% per item. Setelah dijumlahkan kita bisa survey lagi dengan harga toko lain. Kalau warung kecil-kecilan rasanya gak perlu sih harga psikologis. Maksudnya seperti harga Rp 2480, langsung saja genapkan jadi Rp 2500. Nanti bingung kalian cari kembalian hahaha

Tata barang dagangan dengan menarik dan terlihat

Biasanya kalau ke warung selagi penjual menyiapkan belanjaan kita, mata kita suka survey seisi toko kan. Belanja di supermarket aja kita suka lihat-lihat barang lain. Kadang akhirnya masuk keranjang belanja. Nah begitu juga di warung. Meski tidak saat itu juga, pembeli akan kembali jika membutuhkan barang tersebut karena ingat pernah melihatnya di etalase kita.

Tetapkan penghasilan untuk diri sendiri

Ini maksudnya gaji kita tiap bulan. Anggap aja kita karyawan, jadi bisa dianggarkan gajinya dari keuntungan (bukan omset ya) bulanan. Nah sisa keuntungan atau laba ini bisa kita simpan untuk menambah produk dsb. Jangan sampai tercampur ya, bahkan sampai menggunakan omset untuk keperluan pribadi. Bisa-bisa habis dan gak bisa berputar lagi modalnya.

Tiadakan hutang

Ini penting banget. Kadang orang suka lupa bayar, atau malah sengaja kalau berhutang ya larinya ke warung kita karena diperbolehkan. Emak sendiri pernah gak bisa belanja lagi karena gak ada modal. Padahal mereka yang berhutang kalau lagi punya uang belanjanya di tempat lain. Si bungsu bahkan sampai menuliskan hadis tentang Hutang di etalase kwkwkw.

Rekrut karyawan secara selektif

Kalau memang sudah memungkinkan gak ada salahnya merekrut karyawan. Bahkan toko kecil bisa disulap ala minimarket jaman now. Jangan takut di curnagi karyawan, karena sekarang sudah ada aplikasi kasir tanpa perlu mesin kasir besar dan software rumit. Kalau sedang di mall, pasti gak asing deh melihat mesin kasir hanya berupa tab tipis.

Kamis, 07 Januari 2021

Swab Test untuk Persiapan Melahirkan di Masa Pandemi

21.50.00 0 Comments

Bagaimana rasanya melahirkan di masa pandemi? Yang jelas bagi gue nano-nano. Selain kekhawatiran akan tertular virus Covid-19, gue pun kejar-kejaran dengan standar melahirkan di fasilitas kesehatan. Yaitu mengantongi surat keterangan bebas covid-19 dari hasil swab.

Rencana melahirkan gue adalah spontan pervaginam alias melahirkan normal. Berbeda dengan Secar yang waktunya bisa dipilih/ditentukan, melahirkan normal tentunya menunggu sinyal-sinyal kapan si baby mau keluar. Meski ada yang dinamakan HPL (hari perkiraan lahir) tapi tetap aja bikin “galau” kapan harus swab test

Setelah konsultasi dengan dokter kandungan gue, akhirnya dipilihlah waktu usia kandungan 38 minggu untuk test swab. Pilihan awal jatuh di Rumah Sakit tujuan bersalin. Tapi ternyata setelah suami survey testimoni peserta, banyak yang mengeluhkan hasil yang lama keluar. Sekitar tiga sampai empat hari.

Mungkin karena permintaan yang meningkat, dan mungkin salah satu penyebab lambatnya keluar hasil karena tempat pengambilan sampel tidak memiliki laboratorium sendiri. Sehingga antriannya panjang.


Setelah mendapatkan rekomendasi dari adik bungsu gue yang belum lama test swab istrinya untuk keperluan kelengkapan dokumen CPNS, akhirnya gue dan suami memutuskan untuk Swab Test di GSI Lab yang berlokasi di Fatmawati.

Semua proses pendaftaran dilakukan secara online dan mudah. Begitupun pembayaran juga dilakukan secara online. Jadi kita hanya perlu mengisi formulir identitas diri, menentukan waktu pelaksanaan, melakukan pembayaran dan survey semua secara online.

Uniknya sudah ada jadwal yang available tertera dalam formulir. Sehingga kedatangan peserta bisa terakomodir dan tidak terjadi penumpukan karena hari tanggal dan jam sudah disesuaikan terlebih dahulu. Metode pengambilan pun lumayan memudahkan dan aman. Karena bagi yang membawa kendaraan bisa drive thru. Jadi gak perlu ribet cari parkir, dan tetap Social distancing karena gak perlu keluar dari kendaraan.

Buat yang menggunakan sepeda motor atau datang tanpa kendaraan juga gak perlu khawatir tidak dilayani. Karena ada posnya tersendiri. Dan yang membuat gue takjub, hasil yang di janjikan adalah maksimal pukul 24.00 WIB H+1. Tapi ternyata subuh keesokan harinya sudah ada hasil keluar. Itu karena sample yang di ambil langsung di proses saat itu juga. Kok gue tahu? Iya soalnya pas nunggu antrian ada layar monitor yang memberikan gambar live proses dalam lab pemeriksaannya.


Gimana rasanya Swab Test? Jelas gak enak, tapi mertua gue yang kebetulan ikut menenangkan. Katanya sekarang orang sudah semakin terlatih mengambil sample dibandingkan dulu. Dan alhamdulillah meski bersin-bersin dan mual awalnya tapi tidak sampai berhari-hari seperti banyak diceritakan orang-orang yang mengalami efek swab test. Tentunya yang lebih menggembirakan adalah, hasil gue negatif. Yipiii...

Kamis, 31 Desember 2020

Perlengkapan Makan, Minum dan Mainan Anak Bebas Bakteri Dengan Sweety Baby Liquid Cleanser

10.47.00 1 Comments


Saatnya menghitung mundur, bukan karena sebentar lagi sudah mau pergantian tahun tapi gue juga mulai menghitung mundur mendekati persalinan. Jujur deg-deg-an banget sih menjelang dipersalinan yang ke-4 ini. Selain karena mundur dari target yang bisa melahirkan di usia kandungan 38 week, tapi juga karena melahirkan kali ini dikepung dengan virus corona-19. 

Tambah worry juga sih karena di rumah selain juga akan kehadiran calon anggota keluarga baru, juga sudah ada calon Abang yang tahun ini menginjak usia 3 tahun. Yang membuat gue semakin paranoid dengan pandemi ini, karena hadir beberapa hari tepat setelah Abang Gaza pulang opname. 

Trauma kehilangan anak berkali-kali membuat gue over protective sama Abang Gaza. Meskipun Abang Gaza opname karena bakteri bukannya virus, tapi tetap aja khawatir itu ada. Nah karena pengalaman gak enak itulah, sekarang gue jadi semakin aware dengan kebersihan. Salah satunya kebersihan alat makan yang digunakan Gaza. 


Memang sejak usia 18 bulan Gaza sudah mengkonsumsi Susu Formula menggunakan botol susu. Terkadang botol susunya itu tidak bisa langsung dicuci sehingga terkadang basi dan lemak susunya semakin melekat dibotol dan terutama disedotannya yang terbuat dari karet. Nah sepertinya memang itu salah satu penyebab tumbuhnya bakteri. Selama ini sih gue hanya mengandalkan sabun cuci piring biasa. Dan ternyata gak terlalu ampuh ya. Sampai akhirnya gue mencoba memakai Sweety Baby Liquid Cleanser. Cairan pembersih botol bayi, dot bayi dan perlengkapan makan dan minum bayi. So ampuh dong untuk #atasiBakteri

Pertama kali coba, gue jatuh cinta dengan aroma segar Apple Orange-nya. Dan ternyata dengan wangi ini bau amis akibat sisa susu pergi jauh-jauh loh. Karena memang menghilangkan bau amis ini PR banget deh. Kadang bikin selera bayi untuk minum susu bisa hilang kan karena bau amis/susu basi.

Tapi yang paling penting tentunya alasan memilih Sweety Baby Liquid Cleanser adalah produk yang mengandung bahan agent anti bacterial aktif yang dapat membunuh 5 jenis kuman dan bakteri hingga 99,9%. Jadi selain dipakai untuk mencuci perlengkapan makan dan minum bayi, Sweety Baby Liquid Cleanser ini juga gue pakai untuk mencuci perlengkapan menyambut calon baby. Misalnya teether, Botol pumping asi, botol asi, mainan, dan lain sebagainya. 

Oh iya Sweety Baby Liquid Cleanser ini juga berbahan dasar natural. Jadi tentunya aman banget untuk anak-anak dan bayi (tapi gak buat diminum juga yes hahaha). Dan walaupun berbahan dasar natural, formulanya ampuh untuk menghilangkan sisa lemak susu. Selain itu Sweety baby Liquid Cleanser ini juga sudah Food Grade loh. Supaya buah dan sayur semakin yakin bersih dari kuman dan bakteri, cuci saja dengan Sweety Baby Liquid Cleanser dan air mengalir. 

Dan tentunya Sweety baby yang sudah berpengalaman dengan produk-produk untuk bayi sudah mempertimbangkan keamanan produk. Salah satunya dengan menghidari penggunaan paraben/pengawet pada produk Liquid Cleansernya ini. 

Tentunya sebagai orangtua kita menginginkan yang terbaik dong untuk anak. Dan memilih produk-produk berkualitas yang aman untuk anak merupakan langkah awal. 
Persiapan menyambut calon adik dengan produk-produk dari Sweety


Sweety Baby Liquid Cleanser juga bisa menjadi media edukasi ternyata buat Abang Gaza. Terkadang mainannya suka dibawa keluar rumah, jadi pastinya kotor dong. Nah Selain mengajarkan kebiasaan baik dengan mandi, makan makanan sehat, cuci tangan dengan sabun, mencuci mainannya juga selain mengajarkan kebersihan juga mengajarkan dia untuk bertanggung jawab dengan barang miliknya. Mainannya tentu saja dicuci dengan Sweety Baby Liquid Cleanser dong.

Karena berbahan dasar #alami Bunda jadi bisa membiarkan anak #CuciTanpaWorry

Senin, 28 Desember 2020

Tips Membeli Kasur Jaman Now

12.34.00 0 Comments

Gambar : Pixabay

Akhir tahun nih, mau liburan... tapi musim pandemi gini. Mana gue lagi persiapan menjelang lahiran juga nih. Pengen staycation juga mikir-mikir euy. Kayaknya memang di rumah aja udah paling bener. Walaupun hasrat minta liburan terus meronta, tetap harus menahan diri. Tapi supaya tetap nyaman di rumah, dan berasa lagi liburan gak ada salahnya ganti suasana rumah. Misalnya dengan mengganti kasur rumah biar berasa liburan di hotel hehehe.

Eh tapi sebelum beli kasur, sebaiknya jangan asal beli sih. Banyak yang harus dipertimbangkan. Coba deh simak Tips Membeli Kasur ala Bundaro berikut ini.

Belilah sesuai kebutuhan

Membeli barang apapun seharusnya memang utamakan kebutuhan daripada keinginan. Kalau yang dibutuhkan ternyata barang yang kita inginkan, wah itu sih bonus. Nah apalagi membeli kasur, pastikan lagi apakah kehadiran kasur baru di rumah menjadi kebutuhan ataukah keinginan. Gue pribadi karena di rumah akan kehadiran anggota keluarga baru jadi merasa perlu untuk membeli atau sekedar upgrade kasur baru. Selain untuk mempersiapkan si abang untuk kelak tidur mandiri di kamar terpisah, atau sekedar untuk tambahan jika ada keluarga besar yang datang menginap.

Perhatikan kualitas barang

Nah ini penting banget dong pastinya. Kualitas barang harus jadi pertimbangan dasar banget. Gak mau kan baru beli kasur setahun, eh udah rusak. Setidaknya kasur harus bertahan minimal 10 tahun lah. Membeli kasur yang menawarkan garansi produk selama beberapa tahun kedepan juga bisa menjadi bahan pertimbangan. Meski sekarang jaman serba online, cara kita mengetahui kualitas suatu barang bisa dengan riview yang diberikan oleh customer loh.

Pilih sesuai kenyamanan

Tentunya kita membeli kasur berharap bisa mendapatkan kenyamanan dan tidur berkualitas dong. Tapi sebetulnya kenyamanan tiap orang tentunya berbeda. Makanya gue pribadi lebih membeli offline untuk mencoba langsung. Salah satu tips supaya tidak salah pilih kasur secara online selain perhatikan spesifikasinya, baca riview pembeli. Kasur ada yang tipenya empuk banget, ada yang keras. Nah sesuaikan aja dengan kenyamanan masing-masing.

Pastikan ukurannya sesuai dengan ruang tidur

Jangan sampai beli kasur tanpa mempertimbangkan size kasur dengan kesesuaian ruangan. Bisa-bisa barang sampai tapi gak bisa masuk kamar, mau tidur di teras? Hihihi

Sesuaikan dengan budget

Coba sebelum jajan, cek dulu saldo di rekening yak. Kan gak lucu barang udah datang ternyata gak ada uang buat bayar hahaha. Kadang urusan budget ini pada akhirnya bisa mengalahkan poin-poin di atas kecuali kembali ke poin kebutuhan. Yang penting gak tidur di lantai, gak papa gak mesti mahal dan gak harus setara kualitas hotel. Kalau mau bersabar, dan punya kasur impian sabar dulu dengan menabung. Tapi biasanya kalau udah nabung, suka kalah sama pengeluaran tak terduga lainnya hahaha.

Pikirkan tempat pembelian, metode pembayaran sampai proses pengirimannya

Karena sedang pandemi begini, beli online rasanya memang udah paling pas banget deh. Selain lebih praktis, kita juga terhindar dari kegiatan di luar rumah. Dan biasanya kalau beli online kita jadi lebih mudah membandingkan harga. Kalau beli offline, kan repot tuh harus keluar masuk toko. Belum lagi rasa gak nyaman karena diikuti petugasnya (biasanya) hehehe. Kalau gak jadi beli di pelototin jadi merasa segan hahaha.

Dan dari pengalaman gue, walaupun kita sudah melihat barang display, barang baru akan di antar 5-10 hari kerja. Karena kebanyakan toko hanya sebagai display, barang tetap dikirim dari pusat. Nah untuk rekomendasi Jual Matras Kasur Terbaik, klik di sini.

Senin, 19 Oktober 2020

7 Rangkaian Nama Bayi Perempuan Islami yang Cantik

12.00.00 0 Comments

Sumber pixabay

Mendapatkan rangkaian nama bayi perempuan islami yang cantik untuk buah hati tentu menjadi hal yang membahagiakan untuk orang tua. Dengan memberikan nama yang baik, tentu harapan orang tua adalah anak tersebut bisa hidup sesuai dengan namanya. Sesuai apa kata banyak orang, nama adalah doa. Hal ini membuat orang tua harus memilihkan nama yang terbaik untuk anaknya. Agar bisa mendapatkan inspirasi, berikut ini adalah 7 rangkaian nama bayi untuk perempuan yang islami:

1. Alesha 

Nama yang pertama adalah Alesha. Arti dari nama ini sendiri adalah selalu dilindungi oleh Allah. Sebagai orangtua, kita bisa berharap agar anak yang diberikan nama ini bisa selalu dilindungi oleh Allah kapanpun dan dimanapun. Nama Alesha cocok disematkan di bagian depan, tengah ataupun belakang. Contoh rangkaian namanya adalah Alesha Zahra. Alesha Zahra memiliki arti nama bunga mawar yang selalu dalam lindungan Allah. Atau Anda bisa juga memberikan nama Alesha Alifa Hibatillah. Tidak kalah baik, arti dari nama ini adalah anak pertama yang selalu dilimpahkan anugerah oleh Allah SWT. 

2. Balqis 

Balqis merupakan nama kedua yang bisa dijadikan inspirasi untuk anak bayi perempuan. Dasar dari nama ini adalah dari istri nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis. Nama Balqis sendiri diartikan sebagai representasi dari ratu Balqis, yakni baik hati, cantik, ramah dan makmur. Ada dua rangkaian nama yang bisa Anda gunakan sebagai nama buah hati Anda, yakni Callista Balqis Maharani dan Balqis Fayruz Zaman. Callista Balqis Maharani memiliki arti nama wanita yang cantik seperti ratu Balqis. Sedangkan Balqis Fayruz Zaman memiliki arti seorang ratu yang menjadi permata di sepanjang waktu atau sepanjang zaman. 

3. Khaira atau Chayra 

Rangkaian nama bayi perempuan islami yang cantik berikutnya adalah Khaira atau Chayra. Nama Chayra merupakan perkembangan dairi nama Khaira yang memiliki arti kebaikan. Meskipun berubah bentuk, banyak orang tua yang yakin bahwa artinya sama. Ada cukup banyak rekomendasi rangkaian nama yang cocok dengan Chayra, seperti Khalida Chayra Khansa dan Fayyola Chayra Nadhifa. Khalida Chayra Khansa memiliki wanita dengan kebaikan abadi. Diharapkan anak ini bisa selalu berbuat baik kepada sesama manusia dan makhluk hidup. Sementara Fayyola Chayra Nadhifa memiliki arti wanita baik yang bisa mengantarkan Islam menuju kebangkitannya. 

4. Fairuz 

Fairuz merupakan nama berikutnya yang termasuk dalam daftar. Nama ini memiliki arti yang pertama atau sebuah perhiasan. Biasanya, nama Fairuz ini disematkan untuk anak pertama. Tidak jarang banyak ekspektasi yang ingin diwujudkan oleh sang anak. 2 saran rangkaian nama yang bisa digabungkan dengan Fairuz adalah Khalishah Fairuz dan Fairuz Faiqah Zihni. Arti dari Fairuz Faiqah Zihni adalah anak wanita pertama yang pemahamannya akan ilmu berada di atas siapapun. Sementara Khalishah Fairuz berarti anak perempuan yang akan selalu menjadi perhiasan bagi orangtuanya. 

5. Ghina 

Nama Ghina merupakan salah satu nama yang berarti kekayaan. Tentu tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya untuk tidak mendapatkan kekayaan. Biasanya, nama Ghina ini dipasangkan dengan kata yang berarti mulia, sehingga bisa diartikan sebagai wanita yang memiliki hati mulia serta kekayaan. Tentunya kekayaan ini digunakan di jalan kebaikan. Salah satu rangkaian nama dari Ghina adalah Hasanah Ghina Ghusun. 

Rangkaian nama bayi perempuan islami yang cantik diatas bisa Anda berikan pada putri Anda saat kelahirannya. Nama manakah yang akan Anda jadikan pilihan untuk putri Anda? 


Minggu, 12 Juli 2020

Berdamai Dengan Luka Masa Kecil

07.11.00 1 Comments

sumber gambar : Pixabay

04.20 adalah waktu yang ditunjukkan jam di kamar rumah gue di Pamulang. Saat terbangun bantal gue sudah basah oleh air mata. Gue sendiri terbangun oleh air mata itu. Air mata yang disebabkan oleh mimpi yang aneh, tapi justru saat bangun membuatku menangis sejadi-jadinya.

Sudah beberapa tahun belakangan gue seperti melakukan “ritual mengingat mimpi”. Bertahun-tahun silam entah penulis mana yang mengatakan “cobalah mengingat apa mimpimu malam ini saat terbangun, kadang itu bisa menjadi sebuah inspirasi menulis.” Berkali gue coba, banyak mimpi aneh yang gue rasa bisa jadi tema cerita fiksi yang hebat. Tapi malam ini, ternyata mimpi itu menyadarkan gue pada luka yang mungkin gue abaikan.

Apalah mimpi itu? Terkadang hanya sebuah bunga tidur kan? Entah bagaimana sisi psikologisnya, mungkin salah satu dampak yang terbawa dari alam bawah sadar (gak paham juga, coba yang paham bisa komen dan kasih pendapat). Karena bertahun-tahun sudah gue pun menjalani terapi gangguan jin, mimpi bertemu makhlus adalah salah satu tanda seseora harus di ruqyah. Entah bagaimana mimpi gue barusan adalah sebuah pintu masa lalu yang terbuka.

Entah bagaimana mimpi ini dimulai. Intinya gue dalam mimpi adalah gue dalam tubuh gue dewasa. Gue bahkan sudah punya Gaza. Ada si menggemaskan itu dalam mimpi gue. Kalau tidak salah ingat gue pindah ke dekat rumah orangtua gue. Hanya saja suami gue tidak ada dalam mimpi, digambarkan suami gue belum nyusul karena pekerjaannya.

Selesai beres-beres gue punya rencana mau membuat dua indomie goreng dan segelas susu coklat panas untuk melepas lelah sisa pindahan. Saat merebus air, gue kehabisan indomie. Setelah nyalain kompor, gue lari ke warung terdekat (yang entah bagaimana penjualnya adalah tetangga sebelah gue di Pamulang saat ini yang memang punya kios).

Saat gue kembali, air yang gue rebus mau dipakai dulu sebagian untuk bikin susu coklat. Ternyata air sudah mendidih, tapi susu coklat habis. Gue taruh indomie di samping kompor, dan pergi ke warung lagi. Saat gue kembali, gue melihat ada kawat besi menyembul menjadi urat besar di kaki Gaza. Yang entah bagaimana gue inget, gue yang pasang itu kawat besi agar Gaza bisa berdiri kuat.

Gue pikir, gue akan selesaikan urusan indomie dan susu coklat baru setelahnya gue akan urus kaki Gaza, gue mau ambil aja semua kawat besi itu. Tapi tiba-tiba muncul kakak kedua gue. Dan dia tanya siapa yang masak air panas? Karena lihat indomie disampingnya, dia berinisiatif untuk memasak indomienya (niatnya mau bantu). ½ mie dari satu bungkus sudah di tuang, baru dia kemudian berpikir untuk memastikan. Makanya dia ngomong di ruang tengah yang ramai orang, dan gue auto marah. Itu air kan mau di pakai buat nyeduh susu dulu baru sisanya buat masak indomie. Kalau udah di tuang mie duluan kan berarti harus rebus air lagi. Dan pacinya harus di cuci dulu, jadi ribet. Dan yang bikin gue marah adalah, RUSAKNYA RENCANA YANG GUE BUAT.

Entah kenapa sejak kecil gue memang anak yang suka membuat perencanaan memang. Tapi mood gue akan hancur berantakan jika ada satu saja yang berjalan tidak sesuai rencana. Terutama perusaknya adalah orang lain. Itulah kenapa gue lebih suka kerja sendiri daripada kelompok. Karena gue benci jika ada perusak struktur yang gue buat.

Akhirnya karena kesal, niat membuat indomie dan susu coklat gue batalkan. Jangan tanya hancurnya mood gue gimana. Gue akhirnya malah sibuk battle robot apalah gitu (yang bisa keluar dari kartu-kartu. Mirip kartun-kartun gitu) untuk mengalihkan hancurnya mood gue. Masa bodo dengan semua bahan yang ada di dapur.

Trus gue inget dengan Gaza, akhirnya anak itu yang entah bagaimana gue merasa itu adalah Umaro (meski gue panggil Gaza) gue bawa ke kamar untuk cabut kawat besi diam-diam. Karena gue pasti kena amuk masa karena ketahuan pasang kawat besi ke anak sendiri (jangan tanya kenapa gak gue bawa ke dokter). Mungkin karena gue takut di serang “emak macam apa itu pasang kawat besi ke badan anak sendiri).

Baru kawat sebelah kanan yang berhasil gue tarik, yang entah kenapa tidak mengeluarkan darah maupun bikin anak itu gak nangis. Padahal gak pakai bius. Oh iya entah gimana pas gue mau bawa gaza ke kamar gue di lantai atas, keponakan-keponakan gue muncul 4 orang, tapi itu bukan keponakan gue yang biasa. Mereka adalah anak-anak dari sutradara Hanung Bramantyo.

Karena gue buru-buru mau cepet eksekusi kaki Gaza anak-anak itu gue suruh keluar. Dan bukannya keluar mereka malah semakin jadi. Akhirnya setelah salah satu gue jitak, baru mereka keluar dengan wajah sedih. Entah kenapa diri gue sendiri bahkan mau bilang “lo ringan tangan banget pit, mukul anak orang lagi.

Nah pas gue mau lanjut cabut kawat kaki kiri, kakak kedua gue muncul. Dia membahas tentang indomie tadi. Katanya gue lebay Cuma masalah sepele gitu aja dibesar-besarkan. Ternyata dia bete karena akhirya di suruh mama minta maaf. Dan bukannya minta maaf dia malah nyalahin gue terus begini begitu lebay dan sebagainya. Akhirnya karena kesal gue pun teriak-teriak. Gue bilang bukan indomienya, tapi gue benci ada yang merusak rencana gue.

Gak lama kakak pertama gue datang. Dengan suara yang ceria khasnya dia tanya kenapa gue ribut hterus. Kasihan mama di bawah sedih. Gue yang entah gimana lagi pegang ceres warna warni kesal dan menyiram itu ke badan kakak pertama gue “Bukan urusan lo! Dan gak usah pura-pura peduli. Urus masalah lo sendiri, justru lo yang setiap hari bikin mama sedih.”

Trus kakak gue tadi yang sudah gue duga Cuma pura-pura ramah wajahnya berubah marah. Dia lempar juga ceres yang lagi dia bawa ke badan gue (ini kenapa jadi perang ceres sih). Trus gue ketawa, “Bego, itu ceres yang gue lempar gue gak beli. Jadi gak rugi gue. Kalau lo kan itu ceres beli sendiri.” Gak terima dia rugi sendiri, dia bongkar bahan kue gue dan nyari bahan yang bisa di buang biar satu sama.

Dia hampir buang kacang gue, tapi gue cegah. Terjadilah keributan besar yang mengundang Bapak datang. Bapak marah-marah karena kami kakak beradik kenapa ribut terus. Akhirnya bapak manggil satu persatu, mau memberikan wejangan. Sebelum mulai bapak menyebut nama kami satu persatu dengan disertai kalimat yang sama. Tibalah saat bapak menyebutkan bagian gue “Pita... kamu tahu kan bapak sayang kamu.” Tiba-tiba gue nangis dan terbangun. Kata-kata itu seperti simbol kuat Bapak yang sebenarnya. Seperti ya memang itu yang ingin disampaikan bapak dan mungkin juga mama sebagai orangtua kepada anak-anaknya.

Saat sadar entah kenapa yang gue lakukan bukannya istighfar, malah lanjut menangis bahkan sampai sejadi-jadinya.

Mimpi itu seperti menggambarkan kejadian masa kecil, tapi denga tubuh kami yang sudah dewasa seperti sebuah isyarat bahwa kami tumbuh menjadi orang dewasa namun terjebak dengan luka masa kecil kami.

Setelah puas menangis dan merenung, masih dengan isak tangis tertahan (takut Gaza terbangun) gue coba berdoa. Mumpung sepertiga malam, “Ya Allah... betapa banyak luka pengasuhan yang aku miliki sejak kecil. Karenanya aku tumbuh penuh luka hati, yang belum terobati. Aku menerimanya sebagai takdir hidup yang harus kujalani ya Allah. Aku menerima adanya luka masa kecil itu. Tapi saat ini, setelah proses penerimaan itu, aku mohon lapangkan jiwaku. Sembuhkan lukaku. Biarkan semua itu menjadi bagian masa lalu yang hadir untuk menjadikan ku manusia kuat.”

Banyak luka masa kecil yang bahkan berlanjut sampai sekarang yang membuat gue berpikir “keluarga gue gini amat yak”. Tapi gue tahu kok di luar sana banyak kisah keluarga yang tidak lebih baik dari gue. Karena gue paham sejatinya Allah menakdirkan garis hidup yang berliku agar manusia itu belajar, terlatih, merenung dan kembali pada tujuan sejatinya.

Luka adalah sebuah “masalah” yang harus kita sadari dan terima keberadaannya. Bukan sesuatu yang harus kita abaikan, karena kalau begitu bukannya sembuh luka itu bisa jadi bom waktu. Pertama kali gue menyadari adanya luka masa kecil gue adalah tahun 2015 akhir atau 2016 awal saat suami membawa gue mengikuti sesi terapi hypnosis untuk menyembuhkan phobia terhadap jarum suntik. Saat itu gue sedang hamil Umaro, anak surga kami. Tujuan terapi ini agar gue siap menghadapi persalinan yang pastinya ketemu alat-alat medis, salah satunya jarum suntik.

Tapi ternyata begitu banyak luka yang muncul, yang membuat gue merasa satu jam sesi itu kurang. Tapi membayar 500 ribu rupiah setiap sesi juga bikin pusing. Kebetulan terapisnya adalah ustadz yang bisa Ruqyah juga. Sesi yang berjalan bisa dibilang nano-nano. Kadang muncullah sesi dimana kadang jin yang muncul, kadang luka masa kecil gue yang muncul.

Terapisnya berkata, bahwa terlalu banyak luka masa kecil yang terabaikan. Sembuhkan itu dulu, baru nanti bisa terurai benang kusut sampai pada penyembuhan phobia jarum suntik. Luka masa kecil yang terabaikan itu juga salah satu penyebab emosi gue yang meledak-ledak katanya. Dan saat emosi gue gak stabil, memang adalah celah jin menguasai tubuh gue (kesurupan).

Gue paham sepenuhnya bahwa kondisi gue sebetulnya membutuhkan penanganan profesional. Tapi biaya menjadi problem ketakutan gue berikutnya. Gue gak mau membebankan suami. Akhirnya yang gue lakukan adalah terus merenungi diri. Terus bertanya pada diri gue sendiri, tentang apa saja. Karena kadang itu yang membuat kita sadar, hal tak terduga yang ternyata tersimpan di alam bawah sadar.

Selain itu gue juga membaca banyak tulisan tentang kisah hidup orang lain, atau tentang jati diri atau inner child dan artikel lain yang relevan lah. Curhat dan diskusi dengan teman-teman yang memang punya basic ilmu psikologi dan passion dengan itu juga gue lakukan.

Menulis juga menjadi cara gue melepaskan apa yang gue pikirkan. Kalau hanya memikirkannya, semua itu hanya menjadi benang kusut dalam kepala. Menulis membantu gue mengurai satu persatu benang itu sehingga ketemu masalah dan solusinya.

Berdoa, adalah cara kita berkomunikasi dengan Dia yang menitipkan kita segala masalah ini. Barangkali selain untuk membentuk kita, Dia hanya ingin kita terus berkomunikasi dengan-Nya untuk itulah masalah demi masalah hadir.

Namanya juga hidup, masalah pasti selalu ada. Yang terlupa dari pengasuhan dari masa ke masa adalah setiap manusia itu lahir dengan membawa fitrah. Fitrah manusia adalah menjadi orang baik. Jadi sejatinya masalah hidup seberat apapun, harus membawa kembali kita menjadi orang baik.

Kembali mengutip pesan senior di FLP saat beliau menjabat sebagai Ketua Umum, Mba Sinta Yudisia. “Ikhlas itu diawal, ditengah, dan diakhir...” maka sejatinya ikhlas itu harus terus di upgrade.

Jika kita sudah ikhlas dan menerima luka masa lalu, bisa jadi seiring berjalannya waktu luka itu datang lagi. Bukan berarti belum sembuh, hanya saja mungkin flash back saja. Oranglain tidak pernah tahu apakah kita sudah sembuh atau belum, hanya diri sendiri yang benar-benar tahu. Jadi Sebelum bertanya pada orang lain “apa kabar?” tanya diri sendiri terlebih dahulu “Apa kabar diriku? Apa perasaanmu hari ini?”

Masa kecil... Apapun yang terjadi saat itu, gue menerima dan merelakan semuanya...

Pamulang, 12/07/2020
06.05 WIB
Sebagai pengingat agar gue tetap ikhlas diawal, ditengah dan diakhir

Rabu, 08 Juli 2020

Anakku, Mencintaimu Apa Adanya adalah Proses Seumur Hidup

20.38.00 2 Comments

Setiap pagi, saat gue menatap wajah polos Gaza yang sedang tertidur rasanya ada kedamaian sekaligus luka yang menampar. Entah berapa kali gue membuat anak ini terluka hatinya. Entah karena ajakan bermainnya selalu gue tolak karena kesibukan mengurus rumah seorang diri. Dan yang paling gue sadar (meski dia mungkin belum paham) adalah luka karena gue terus “menuntut” dia menjadi seperti anak-anak yang lain.

Menjadi ibu jaman sekarang itu “tidak mudah”. Tapi gue yakin setiap ibu memiliki suka duka berbeda pada kondisinya dan masanya. Bagi gue pribadi kesulitan menjadi ibu saat ini adalah karena banyaknya informasi yang “terlalu mudah” di akses. Apakah bagus ada banyak informasi seputar tumbuh kembang anak? Oh bagus donk. Tapi buat gue pribadi itu seperti pedang bermata dua.

Di satu sisi gue terbantu bahwa ada milestones anak yang harus terpenuhi agar tumbuh kembang anak optimal. Tapi disatu sisi saat anak gue gak mencapai “target” ada ketakutan. Bahkan ajang melihat rumput tetangga “anak tetangga” yang udah bisa ini itu gue jadi jiper dan stress. Ini anak gue yang “kurang”? Atau emaknya yang males kasih stimulasi? Atau “anak tetangga” yang terlalu jenius???

Informasi seputar stunting pun sebetulnya bagus, untuk mecegah hal buruk terjadi pada anak terkait gizi. Trus gue yang punya anak bertubuh mungil (yang katanya makanan dihabisin emak bapaknya yang gendut) lagi-lagi merasa insecure. Melihat orang dewasa yang punya tubuh pendek diluar sana, langsung mau nangis. Akankah anakku nantinya pendek, trus gimana nanti masa depannya??? (padahal orang pendek tapi tetap sukses juga banyak)

Sejak kecil hal yang paling gue benci dari perlakuan orangtua gue adalah seringnya mereka membanding-bandingkan gue dengan anak tetangga. Si A bisa pulang jam sekian kok kamu telat terus, si B nilainya selalu segini kok kamu gak bisa, si C... Si D... Si F... dst sampai gue gumoh. Tapi entah karena itu semacam luka masa kecil yang gue belum bisa berdamai dengannya atau karena memang ternyata segini khawatirnya saat menjadi orangtua akhirnya gue sendiri sering membadingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Bedanya (gak tau nanti semoga gak terjadi) gue gak pernah sampai tercetus kalimat secara verbal. Hanya dalam hati saja.

Gue terus belajar untuk menerima dengan terus mensugesti diri dengan bilang “setiap anak spesial dengan kelebihan sepaket dengan kekurangan yang dibawa”.

Tapi ternyata godaan dari luar kadang mematahkan benteng pertahanan gue. Ada aja lah komentar “anak lo kok kurus, si anu anaknya gendut.” Atau “Anak lo belum bisa jalan? Dulu waktu lo bayi jalan umur berapa tahun? Ada hubungannya loh sama genetik.” Atau “kok belum bisa ngomong, dulu waktu bayi lo mulai bisa ngomong usia berapa?” dst

Mendapat pertanyaan-pertanyaan macam itu gue langsung auto insecure... Lagi-lagi gue merasa jadi ibu yang gak becus, gak bisa kasih makan, gak bisa merawat, males stimulasi anak, atau bahkan parahnya gue berpikir gue ini bego! Yes, gue merasa anak gue kemampuan berpikirnya karena emaknya aja bego, kan katanya kecerdasan anak di wariskan dari genetika ibu. Apa seharusnya orang bego macam gue gak usah kawin dan punya anak yak? Daripada melahirkan anak-anak yang sama begonya sama gue.

Kalau udah kumat muncul deh perasaan kok anak gue gak kayak si A...B...C...D... dst. Dan kalau udah mulai banding-bandingkan gini gue merasa kotor, berdosa dan gak fair. Apa bedanya dengan yang orangtua gue dulu lakukan ke gue??? Kalau Gaza tau dia pasti sedih.

Lalu... gue berpikir...

Gaza... anak lucu yang tidak pernah merepotkan saat digendong karena gak terlalu berat itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa. Gaza... Anak yang baru bisa berjalan usia 14,5 bulan tapi langsung lancar tanpa tertatih itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa. Gaza... Anak yang usia 2,5 tahun baru mulai berkomunikasi langsung dengan kosakata yang banyak dan lucu itu tidak pernah bisa memilih menjadi anak siapa... Dan meski dia tidak bisa memilih, dia tetap menerima gue sebagai ibunya.

Sosok yang harus ada saat bangun dan akan tidur. Sosok yang selalu dicari saat sedih dan terluka. Sosok yang dicari untuk berbagi air minum yang baru dituangkannya sendiri dalam gelas. Sosok yang selalu ingin dipeluk dan diciumnya. Itulah gue... Ibunya yang dia cintai apa adanya...

Lalu gue berpikir, kenapa gue gak bisa mencintai dia apa adanya??

Ketahuilah nak... mencintaimu apa adanya adalah proses panjang seorang ibu. Tapi Bundaro akan selalu berusaha untuk melalui proses itu. Karena kamu layak diperjuangkan untuk memperoleh cinta apa adanya dari Bundaro...

Pamulang 08/07/2020

Rabu, 27 Mei 2020

Halte Kehidupan

08.15.00 0 Comments

Teman-teman tahu kan apa itu halte? Yah walaupun di negara kita halte kurang berfungsi sebagaimana mestinya, setidaknya semua orang tahu bahwa halte adalah tempat berhentinya kendaraan umum atau tempat untuk transit. 


Belakangan gue sedang merenungkan bahwa sepertinya saat ini gue sedang berada pada “tujuan akhir”, “tujuan salah”, atau mungkin sekedar “transit”.
Sebelum menikah gue berprofesi sebagai pendongeng profesional. Namanya juga profesional, tentunya ada value yang gue tawarkan untuk “dijual” bukan sekedar mendongeng seadanya. Tapi sejak menikah, ikut merantau ke pulau seberang profesi gue seperti kurang mendapatkan apresiasi secara profesional. Gue pun akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak dan fokus kepada keluarga kecil gue saat itu.

Kemudian disela mengisi waktu luang, gue putuskan untuk menulis blog. Membagikan cerita-cerita kehidupan yang gue harap dapat diambil maknanya, hikmah, dan pembelajaran bagi pembacanya. Dari sejak SD gue suka menulis puisi, membacakannya di depan kelas atau panggung perpisahan. Setelah SMP gue suka menulis cerpen karena termotivasi dengan cerita pendek yang ada di majalah remaja yang sering dibawa teman sekelas. Sampai SMK dan kuliah kebiasaan menulis cerpen itu berlanjut. Bahkan gue yang gak suka matematika dan memilih hitung kancing atau nyontek (ups jangan ditiru ya) saat ujian nasional, lebih sering menggunakan kertas buram untuk menulis cerpen disela-sela ujian.

Masa kuliah adalah masa-masa gue akhirnya mengenal dunia internet lebih lebar. Tidak hanya sibuk be Yahoo Massanger atau friendster, tapi kemudian gue membuat akun multiply secara tidak sengaja. Bahkan pernah sekali menang juara satu lomba menulis Blog dengan hadiah Blackberry sebagai hadiahnya (gue pernah berdoa, kalau punya Blackberry itu karena gue dapat bukan beli hahaha). Tapi meski punya akun multiply, gue lebih sering nulis di Catatan Facebook. Karena akun Fb gue namanya De Pita, akhirnya semua berlabel “De”. Ada “CurhatDe”, “PuisiDe”, “CerpenDe” dll (mungkin kalian akhirnya paham kenapa blog ini namanya www.curhatde.com hahaha)

Setelah punya anak tahun 2016, gue ingat salah seorang teman menyarankan gue untuk menulis Blog. Membagikan cerita dan pengalaman saat memiliki anak. Karena katanya cara gue merawat anak kekinian banget. Dari mulai perlengkapan bayi sampai dengan penanganan bayi. Dan dari situlah akhirnya gue memutuskan membuat blog (lebih tepatnya melanjutkan karena ternyata tahun 2012 pernah bikin blog di blogspot baru diisi beberapa tulisan hahaha). Kemudian memutuskan untuk membeli domain Juni 2016 (eeeeh berarti bentar lagi waktunya ngerogoh dompet buat bayar perpanjangan nih kwkwkw)

Gimana, sampai sini kalian sudah bosan belum baca kisah gue? Karena itu masih pembuka saaay kwkwkw...

Sejak memutuskan TLD (Top Level Domain alias domain berbayar) ternyata job mulai berdatangan. Gue pun mulai menikmati datangnya barang-barang untuk diriview atau diendors yang terkadang juga membuat bunyi cling cling pada celengan gue di bank hahaha. Gue pun mulai gencar untuk mencari informasi seputar job. Gabung komunitas ini dan itu. Tambah semangat karena ternyata di grup-grup tersebut banyak informasi yang membuat gue belajar mengembangkan blog.

Yah namanya juga main di dunia maya, ternyata ada banyak hal yang terkait dengan alogaritma yang buat gue yang gaptek bikin mumed hahaha. Jangankan mempelajari SEO, ganti tamplate sendiri aja bikin gue sakit kepala dua hari dua malam, tambah gendut (cemilan always nemenin), dan yang parahnya anak sama urusan rumah tangga terbengkalai (so maaf ya yang bosen sama tamplate gue, gue juga bosen sebetulnya kwkwkwkw. Belum lagi katanya tamplate bisa ngaruh buat SEO dsb, huft sabar.)

Dan semakin kesini, syarat mengikuti sebuah job sebagai blogger juga harus diimbangi dengan jumlah follower di sosial media. Padahal dulu cukup dengan DA (domain Authority. Yah semacam rangking domain gitu). Saat Follower instagram gue masih 500 minimal untuk dapat job harus 1000. Setelah 1000 tercapai dengan tersengal-sengal, ternyata udah naik jadi 1500. Dan setelah ngesot-ngesot mencapai 1500, naik lagi jadi 2000. Sekarang belum 2000 udah naik lagi pakai di atas 10k kwkwkw...

Belum lagi alogaritma google yang baru membuat DA gue yang sudah di posisi 24 tiba-tiba terjun bebas diangka 10 kwkwkw...

Apakah gue stress? Banget!

Ya Allah apa salah dan dosaku... Selama setahun gue marah dengan kondisi yang tidak bisa gue menangkan. Stress banget, emosi naik dan turun. Karena gak mood akhirnya banyak urusan rumah yang harusnya jadi kewajiban gue terabaikan.

Tapi rupanya kondisi ini membuat gue mengenali siapa diri gue sendiri. Gue belajar untuk tidak lagi memaksakan apa yang tidak bisa gue raih. Karena ternyata untuk gue pribadi, menjadi ambisius membuat gue menelantarkan banyak hal. Merusak mental gue juga. Bahkan pelan-pelan mengacaukan struktur dalam keluarga gue.

So sebelum semua semakin kacau, gue putuskan untuk menerima.
Proses menerima itu pun sebetulnya naik turun juga loh. Karena ada aja temen yang komen “Makanya jangan males nulis, jangan males ikutan BW (blog Walking), jangan males posting sosmed, daaaaaan petuah lainnya.”

Rasanya mau teriak, ya ampun sist lo saat mental gue drop karena stress bantuin kagak?? Selalu nyindir blognya gak gue baca, punya gue dibaca gak? Selalu komplain gue gak pernah nengok IG story lah gue klo bikin Story gak pernah lihat lo nongol duduudu.

Tapi sekarang gue udah tahu, apa yang harus gue lakukan. Saat bis gue berhenti disebuah halte, yang perlu gue lakukan hanya merenung. Mencukupkan perjalanan sampai sini, memaksakan berjalan, atau transit ketempat lain.

Gue memilih santai untuk menaiki bus selanjutnya. Gue gak mau mendorong diri gue melewati batas yang gak gue mampu untuk mengejar bus yang tertinggal. Kalau dalam perjalanan menunggu ada bus menuju ketempat lain yang lebih menarik dan layak untuk dicoba kenapa gak. Sambil menunggu bus pun kalau ada yang nawarin makanan enak, yah jangan ditolak.

Anggap aja gue gak punya passion untuk ini. Gue hanya perlu mengingat tujuan awal gue memulai sesuatu. Gue hanya perlu bertahan dengan itu. Setidaknya aktifitas menulis di blog yang sudah bertahun-tahun gue jalani ini bermanfaat untuk relaksasi pikiran gue. Yes... gue gak boleh lupa, saat mulai menulis puisi, cerpen, ataupun blog gue punya tujuan. Gue memiliki pesan untuk dibagikan.
Dan Halte kehidupan ini berlaku tidak hanya untuk dunia tulis menulis. Tapi segala aspek. Saat Tuhan memberikan kita jeda dari rutinitas, mungkin itu saat Tuhan meminta kita berpikir. Apakah yang kita jalani selama ini sudah “benar dengan jalurnya”.

Setiap orang berbeda. Ada yang bisa push dirinya sampai limit terakhir, ada yang memang mencukupkan dirinya dengan sesuatu yang dimiliki, dan semua itu pilihan. Apapun yang kamu pilih, pastikan kamu memutuskan sendiri bukan karena desakan orang lain. Orang lain boleh memberikan masukkan tapi tetap kita yang memutuskan. Supaya kelak jika ada yang tidak sesuai, kamu hanya perlu introspeksi diri. Bukan menyalahkan orang lain.

Pemberhentian berikutnya... Halte Menjadi Diri Sendiri...

Senin, 27 April 2020

Jangan Posting Makanan di Media Sosial?

08.42.00 1 Comments

Gambar : Pixabay

Guys... gimana puasa hari ke-4 ini? Masih suka julid? Ups! Atau sudah kembali ke jalan yang benar? (*pertanyaan ini ditujukan buat diri gue sendiri kwkwkwkw)

Ramadhan kali ini menurut kalian berkesan atau sangat tidak berkesan? Secara saat ini kita sedang berpuasa di tengah pandemik covid-19. Tentunya pasti ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga kita tetap dalam keadaan bersyukur seperti apapun itu ya.

By the way, gue kali ini mau curhat soal bermedia sosial di masa sekarang ini, terutama soal yang lagi hits yaitu “Postingan Makanan di Media Sosial”. Yes sesuai judul yang pastinya udah kalian baca dan membawa kalian tergerak nge-klik link yang udah gue share kwkwkw.

Jadi beberapa waktu ini lagi heboh banget kan tuh, orang-orang (bahkan ada artis) yang share jangan posting makanan. Karena rasanya tidak empati dengan yang saat ini sedang kesulitan bahkan sampai tidak bisa makan. Bahkan ada orang yang posting curhat, bagaimana anaknya kemudian merengek minta dibelikan makanan tertentu saat melihat gambarnya berseliweran di sosial media. Sedangkan suami beliau sudah lama tidak dapat pemasukan dari ojek online setelah adanya pandemik covid-19 ini. Semoga saat ini Allah masih menjaga keluarga beliau dan keluarga-keluarga lainnya yang kondisinya serupa.

Beberapa hari yang lalu pun, gue mendapatkan teguran dari suami saat meminta (setengah tantrum kwkwkw, yah emang gaya gue didepan suami kan gitu. Manja-manja yang kalau dilihat orang lain langsung bikin pengen muntah kwkwkw) untuk dibelikan lobster. Gara-garanya ada temen gue yang share di Ig Story baru dapat lobster dari temannya.

Ya Allah...seumur-umur gue tuh belum pernah makan lobster. Udah mana beberapa hari ini tayangan tentang lobster seliweran terus guys di timeline gue. Entah itu Baim Wong yang dapat lobster usia 30 tahun (wew beda setahun gue sama lobster umurnya kwkwkwkw), Zaskia sungkar yang masak lobster, content creator di luar negeri pada mukbang pake lobster. Ditambah temen gue gimana gak kepingin tuh gue kwkwkw. Kenapa gue berani merajuk, karena katanya lagi murah karena gak lagi susah ekspor saat ini. Kan aji mumpung tuh buat nyoba.

Tapi kemudian suami gue negur dengan gaya khasnya yang lempeng, “tuh kan Bunda, orang tuh jadi kepingin kalau lihat postingan makanan. Gimana kalau mereka gak mampu. Kasihan kan...” mungkin ini maksudnya menegur isteri secara soft selling karena doyan share gambar hasil dapur di sosmed *plak. Dan tantrum pun berubah jadi manyun kwkwkw

Semua Punya Sudut Pandang Berbeda

Buat gue pribadi, memposting foto makanan bukan lantaran mau pamer kekayaan karena bisa makan ini dan itu. Tapi lebih karena mau pamer skill baru hasil mencoba resep ini itu (Lah pegimane sih intinya mah tetep pamer yak?!) Dan barangkali kedepannya bisa jadi produk jualan baru hihihi (otak sensing, harap maklum)

 Kalau ada yang minta resep kalau gue dapat dari orang lain biasanya akan gue kasih sih. Kalaupun gue gak langsung kasih itu mohon sabar, karena mau gue jadikan konten di IG, Blog ataupun di Youtube kwkwkw. Bagaiamana pun gue kan juga butuh mengisi konten-konten gue. Yah intinya gue tetep share yekaaaan.

Tapi kalau hasil formula sendiri dan mau gue jadiin jualan ya monmaap gak gue kasih ya guys kwkwkw.

Tapi ini memang menarik sih ya, kalau membahas tentang sudut pandang masing-masing yah gak akan ada titik temunya. Yah namanya juga hidup, pasti ada pro kontra. Namanya juga dunia yang bagai panggung sandiwara (stop! Kalau diteruskan gue bisa nyanyi)

Gue sendiri sebagai content creator (ngakunya sih gitu, tapi bikin konten masih tergantung mood kwkwkw) jika ada teman yang posting sesuatu akan lihat dari sudut pandang proses kreatifnya. Bukan dari sudut pandang apa yang dia miliki gue gak (aduhai bijak beut gue. Coba tiap hari begini hahaha)

Misal gue nonton youtube, gue akan tertarik mengamati kontennya menarik atau gak, orisinil atau gak, karakter kontennya, karakter editingnya dsb. Sama halnya ketika ada orang upload makanan, terlebih teman-teman yang memang fokus di konten makanan. Gue akan lihat resepnya yang dibagikan, kira-kira gue bisa gak, bahannya ada gak, mudah gak dicari. Trus gue akan perhatikan teknik fotonya, wadah yang dipakai, alas foto, properti, pencahayaan dsb.

Bahkan ketika gue blog walking (Baca-baca blog orang), selain isi gue juga akan mengamati karakter penulisannya utuk dipelajari. Pokoknya jangan berhenti belajarlah gitu maksudnya.

Tapi memang kita jangan menutup mata. Kalau ada juga sudut pandang lain yang ingin memiliki namun tak memiliki kemampuan. Kalau orang dewasa insyaallah udah lebih wise lah ya. Kalau anak-anak? Mungkin saatnya kita mengedukasi agar mereka paham bahwa tidak semua yang diinginkan harus terealisasikan. Bagaimana dengan orang dewasa yang kekanak-kanakan?? Yah itu mah bakalan jadi PR banyak orang hihihi.

Intinya mah jangan sampai kita julid sama orang lain. Tau julid kan? Coba buka KBBI, biar tahu bedanya mudik sama pulang kampung. Eh maksudnya tahu artinya julid. Kalau gak ada baru tanya gue.

Tapi kalau penyakitnya udah julid mah iya atuh susah. Orang upload makanan, di-julid-in. Orang gak upload makanan di-julid-in. Orang gak upload apa-apa juga bahkan kena di-julid-in hahahaha.

Tahan Jari Jika tidak Memberikan Manfaat

Salah satu hobi gue adalah kalau lagi berselancar di dunia maya adalah membaca komen yang ada. Entah itu nonton youtube, lihat facebook. Cuma Instagram aja gue lebih suka menikmati gambar dan baca caption. Dari komentar-komentar itulah gue belajar kalau “yes true ada sudut pandang lain loh. Gak Cuma isi kepala lo yang maha benar di dunia ini.”

Belajar empati tidak harus dengan berada diposisi yang sama. Karena tentu saja meski kejadiannya serupa tapi dengan kondisi yang berbeda impact-nya akan berbeda. So dari bahasan-bahasan “Jangan posting makanan di media sosial” gue belajar untuk tidak memberi makan egois. Gue sering loh mau posting sesuatu, udah nulis caption panjang eh gak jadi gue post.

Karena gue bertanya, kira-kira postingn gue ini berfaedah gak ya. Kira-kira malah akan menyebabkan keributan yang pro ini itu gak ya. Atau ... yah kadang kelepasan juga sih hahaha. Kita memang tidak pernah bisa membuat semua orang bahagia.

Cuma ya, jangan juga lah semua yang posting makanan dianggap gak toleransi. Terus yang jualan makanan mereka kudu posting piring kosong kayak indomie seleraku gitu? (bukan iklan ya hihihi). Semoga semua orang bisa dewasa dan bijak untuk saling menyikapi.

By the way, tulisan ini bukan untuk menghakimi orang lain ya. Tapi sekedar curhat, dan suatu hari bisa jadi pengingat diri gue sendiri kalau udah mulai eror. Mohon maaf lahir batin meski lebaran masih lama. Kekurangan datangnya dari gue, kesempurnaan hanya milik Allah. Sampai jumpa kembali di tulisan gue selanjutnya (kalau lagi gak males)


Sabtu, 04 April 2020

Wellcome April! Ini isi Hati Gue...

21.17.00 1 Comments

Memasuki bulan april, biasanya sih gue happy gitu karena artinya memasuki bulan kelahiran gue. Dan harusnya tambah happy karena ternyata Ramadan tahun ini ada di bulan kelahiran. Banyak hal sudah kami (gue dan suami) persiapkan menyambut Ramadan dengan agenda-agenda bahkan rencana mudik. Tapi di tengah wabah (eh wabah atau pandemi sih? Bedanya apa sih? Komen dong yang tahu) Covid-19 kayaknya semua rencana tinggal rencana. Jangankan mudik ke tempat mertua gue di Jogja, mudik ke tempat emak gue yang masih satu kota aja sebulan ini harus di-pending sampai waktu yang tidak dapat ditentukan *hiks.

Rencana lain yang sepertinya akan ke-pending juga adalah finishing rumah. Iyes setengah tahun belakangan gue pindah kerumah baru. Dan rumah ini sebetulnya masih banyak PR finishing (dananya mefet kala itu guys hihihi). Bahkan termasuk evaluasi sana sini seperti beberapa bagian bocor yang bikin cat akhirnya mengelupas. Sempet kepikiran mau di cat ulang atau ganti pakai wallpaper dinding aja kali ya. Atau mentok-mentoknya nanti gue tutup pakai Poster atau bingkai foto. Eh suami gak suka pasang foto atau gambar hidup sih di rumah. Fix gue tutup pakai sertifikat-sertifikat yang gue kumpulin selama kuliah *LOL

Dapat Fee dari kerjaan lama langsung di jajanin Cetakan Pukis di Tokopedia buat menghibur diri gak bisa jalan-jalan kwkwkw


Kira-kira sebulan yang lalu gue harus membawa Gaza ke IGD yang berujung rawat inap selama 3 hari. Kenapa ke IGD? Karena Gaza demam tinggi di hari minggu. Di mana poli pada tutup semua. Dan yang bikin gue terpukul (mentalnya) adalah gue seorang diri. Suami gue lagi dinas udah 10 hari ke Surabaya gak balik-balik. Setelah hari itu, you know what? Gue jadi sedemikian paranoid dengan kondisi anak gue. Yah padahal bukan sakit yang berat banget sih (naudzubillahi minzalik), tapi gue jadi separno itu. Mungkin karena gue pernah kehilangan anak ya.

Baca Juga : BerdamaiDengan Luka

Yes! Gue separno itu bahkan ketika Gaza dimasa pemulihan batuk pilek karena ketularan anak lain yang nekat main sama Gaza. So di tengah wabah Covid-19 ini fix keparnoan gue semakin menjadi. Bahkan gue yang jarang (hampir gak pernah malah) ribut sama suami, akhirnya berantem. Suami gak nyaman karena gue sebegitu parnonya.

Akhirnya gue memutuskan untuk skip seluruh berita terkait covid-19, entah benar atau hoax semua gue skip. Karena ternyata guepun dalam keadaan tidak sehat mental untuk menerima berita-berita yang bukannya bikin tenang tapi bikin panik. Gue memilih untuk sibuk di dapur nyoba segala resep. Iseng bikin video untuk youtube channel gue dst.
Beli Beginian aja sampai di-online-in coba hiks *kurindu Mall 

Saking paranoidnya tentang penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat yang santuy ini, gue sampai berpikir untuk belanja online semua keperluan sehari-hari. Teman merekomendasikan Sayurbox untuk belanja kebutuhan sayuran dan buah.

Meski demikian gue bersyukur masih dapat terpenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga gue. Cuma setelah WFH (lah emak rumah tangga kek gue mah kan WFH terus sih yak) otak gue semakin ngepul. Mau jajan ngeri corona, mau jalan ngeri corona (lah iya makanya #dirumahaja guys), dan fix Emak kurang piknik! Tapi lagi-lagi gue harus tetap bersyukur.

Gue udah gak kuat guys baca berita tentang tenaga medis, orang-orang yang bisnisnya mandek, atau orang-orang yang kesulitan dimasa covid-19 ini. Bisa nangis sesedih itu. Nonton drakor aja sekarang nyari yang happy-happy aja deh. Gak kuat mental emak ini.

Walaupun gue bukan emak-emak yang disibukkan dengan tugas sekolah anak tapi tetep mumet.

Nyibukin diri bikin kontent di Youtube akhirnya 

Tapi... gue yakin Allah menurunkan penyakit ini dimuka bumi ini bukan tanpa maksud. Ada banyak hikmah yang bahkan bisa kita tengok meski cobaan ini masih berlangsung. Sekarang orang beramai-ramai olahraga, rajin makan buah dan sayur, rajin berjemur, rajin cuci tangan pakai sabun, bahkan kata para ilmuwan Bumi saat ini sedang memulihkan diri. Masyaallah...

Gue Cuma berharap, tiba-tiba Allah kasih mukjizat di awal Ramadan semua virus covid-19 ini lenyap “Ziiiing....”Aamiin. Pengen banget kumpul dengan keluarga lebaran nanti. Silaturahmi dengan orangtua, kakak dan adik. Makan hidangan lebaran dan kue lebaran bersama. Bagi-bagi amplop lebaran untuk keponakan-keponakan. Dan jalan-jalan menyusuri wisata-wisata baru di kampung halaman suami di Jogja.

Well... April. Kehadiranmu tahun ini membuat gue harus banyak-banyak merenung. Selain angka yang bertambah (namun jatah hidup berkurang) dan rambut-rambut putih yang semakin banyak sepertinya keadaan saat ini juga banyak direnungi. Semoga semakin menambah kedewasaan dan kebijaksanaan. Aamiin