Follow Us @curhatdecom

Kamis, 26 Mei 2016

Umaro dan Lactacyd Baby: 6 Langkah Mengatasi Ruam Popok

17.53.00 1 Comments


Aku dan #LactacydBaby andalan Bundaku :)
Kalau punya Baby waspada dengan yang satu ini. Yaitu ruam popok. Waktu Baby Umaro baru lahir, kulitnya masih mulus euy selama di rumah sakit. Tapi ternyata beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, mulai timbul bintik-bintik merah di sekitar kemaluan. Sebagai Mom Newbie jelas panik donk. Karena merahnya pake banget, pasti si Baby jadi gak nyaman banget.

Sempet ada teman yang menyarankan susu dan produk turunannya. Padahal emaknya Umaro suka banget sama susu, keju, roti, cake dll yang bahan utamanya susu. Kenapa suruh stop produk susu dsb? Karena bisa jadi kemerahan yang muncul di tubuh baby disebabkan oleh alergi karena makanan yang di konsumsi ibu. Maklum Umaro kan ASI eksklusif.

Tapi rupanya setelah stop itu semua, ruam tak kunjung hilang. Tambah bingung donk ya emaknya Umaro. Akhirnya setelah searching-searching, tanya bidan, dan tanya teman dapatlah berbagai masukan yang Alhamdulillah membantu banget.

10 item Optional Dalam Merawat Baby

12.59.00 2 Comments
Setelah sebelumnya share list wajib menyambut baby new born. Nah simak list Optional berikut saat merawat Baby New Born. Namanya juga Optional, jadi bisa jadi kamu butuh bisa juga nggak. Jadi disesuaikan dengan kebutuhan ya.
  1. Bantal menyusui. Seberapa penting punya bantal menyusui ini? Lumayan penting sih buat gue. Bisa ajah sih pakai bantal biasa. Tapi penggunaan bantal khusus menghindari penyebaran kotoran. Misal saat menyusui tau-tau baby “bocor”. Kan kalau gak pakai diapers, otomatis bantal kotor. Dan lagi bantal yang memang didesain khusus ini memberikan kenyamanan yang berbeda dengan bantal biasa. Bentuknya yang menyerupai bantal leher versi besar, mencegah bantal bergeser saat digunakan. Model tertentu bahkan sudah dilengkapi dengan pengikat di belakang dan kantong serbaguna.
  2. Perlengkapan ASI Perah. Pompa ASI jelas sangat dibutuhkan terutama untuk ibu yang bekerja. Sempet kepikiran ngapain juga gue punya beginian. Wong sehari-hari di rumah ajah. Tapi ternyata awal-awal baby Umaro lebih banyak tidur. NgASI nya belum banyak seperti sekarang. Sedangkan ASI gue melimpah. Hasilnya PD bengkak dan sakit. Belum lagi kadang “bocor” akhirnya bikin badan basah kuyup. Nah pada saat itulah Pompa yang emang udah sedia (boleh lungsuran) ini berguna. Untuk penyimpanan di freezer, bisa menggunakan botol kaca atau plastik penampung khusus ASI. Gue lebih suka pakai plastik. Selain praktis bisa di tulis tanggal pakai spidol permanen, juga bersahabat buat freezer gue yang kecil. Jadi muat banyak. Nah untuk pemberian ASI perah ke Baby Umaro, Abu Umar melarang penggunaan Dot. Kenapa? Hasil searching-searching, DOT bisa membuat baby bingung puting bahkan bisa mempengaruhi produksi ASI. Kalau gak pakai dot, terus ngasihnya pakai apa? Karena Umaro masih new born ASIP nya diberikan pakai

Kamis, 19 Mei 2016

Ini Dia List Wajib Menyambut Kelahiran Baby...

12.39.00 0 Comments
Yuhuuuu... it’s time buat kembali menulis setelah sekian lama. Riweuh selama hamil dan persiapan kelahiran, dan sekarang ternyata tetep riweuh karena kehadiran baby Umaro. Tapi alhamdulillah riweuh yang menyenangkan. Nah, berhubung gue lahiran jauh dari ortu, berbagai hal diurus sendiri dibantu suami tentunya. Mumpung Baby Umaro lagi tidur, mari kita bersih-bersih debu laptop dan blog yang ternyata mulai berdebu kwkwkw.

Namanya pengalaman punya anak pertama, selaku emak-emak rasanya klo ke toko perlengkapan baby semua pengen dibeli dari A-Z. Tapi biar gak mubadzir, ini dia refrensi beberapa item yang wajib ada dalam list menyambut kehadiran baby new Born diantaranya:

Kamis, 21 Januari 2016

Sebuah Mimpi Yang Baru...

12.04.00 0 Comments
Kalau kata orang sih ya, gak akan ada asap kalau gak ada apinya. Nah begitu juga dengan hobi, pasti ada latar belakang orang punya minat tertentu terhadap sesuatu. Kalau melihat sejarah keluarga, sebetulnya gak ada satupun yang mewarisi hobi membaca. Emak sama Babeh gak pernah tuh ngasih stimulus tertentu ke anak-anaknya supaya punya hobi baca buku.

Tapi, waktu jaman sekolah dulu babeh yang peduli banget sama pendidikan anak-anaknya setiap tahun ajaran baru selalu ngajak anak-anaknya ke toko buku buat beli buku pelajaran. Meski keluarga kami sederhana, babeh selalu mengutamakan segala hal yang menunjang pendidikan anak-anaknya, termasuk menyediakan buku pelajaran yang tidak disediakan sekolah.

And you know what? Gue ngerasa jadi anak paling pinter disekolah karena LKS gue selalu terisi karena adanya buku-buku refrensi yang lebih lengkap daripada LKS atau buku paket sekolah. Dari situ gue mulai tertarik sama buku.

Ketertarikan gue sama buku pun berkembang ke buku-buku cerita. Gue selalu gak sabar menanti datangnya hari kamis. Kenapa kamis? Karena kamis adalah jadwal perpustakaan sekolah dibuka. Kalau dunia SD gue sekritis sekarang, mungkin akan keluar argumen “Ngapain bikin perpustakaan sekolah kalau gak dibuka. Perpustakaan Cuma sebagai hiasan kalau ada kunjungan dari Dinas Pendidikan. Itu Perpus apa pajangan?” hihihi

Tapi ya nyatanya meski dibuka hanya seminggu sekali, gak mengurangi antusias gue buat minjem buku-buku kumpulan cerita rakyat.

Jumat, 28 Agustus 2015

Belajar dari Negeri Orang...

14.47.00 0 Comments

Singapore I’m Coming!!! Apasih?! Ke singapore ajah norak banget, Cuma setempongan dari Indonesia. Hehehe gak papalah ya norak, ini pertama kalinya saya jalan-jalan keluar negeri Bo! Setelah bertahun-tahun lamanya sempet sombong dengan bikin stetment “Ngapain keluar negeri? Indonesia jauh lebih indah”. Tapi ternyata ketika kesempatan itu datang siapa yang rela nolak.

Kebetulan saat itu saya sedang ada acara Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena di Bali. Untuk pertama kalinya juga saya menginjakkan kaki di Bali. Ternyata benar, pantas saja banyak turis jatuh cinta pada Bali, tempatnya benar-benar indah.

Pulang dari Bali, saya iseng ngerayu atasan di kantor. Ngajak liburan ke Bali di akhir project. Serius niatnya Cuma bercanda. Tapi ternyata beberapa minggu kemudian ada pengumuman di Kantor agar semua fasilitator membuat passport karena kita mau di ajak ke Singapore. Mimpi gak ya Saya?

Ternyata benar, April 2013 kami berangkat ke Singapore bersama-sama. Kok bukan Bali? Kadang disini saya merasa sedih, kala mendengar berita bahwa tiket pesawat ke luar negeri lebih murah daripada penerbangan domestik. Tapi jauh lebih baik dibandingkan dulu, tiket dalam maupun luar negeri juga sama-sama mahal.

Sempet penasaran juga sih,

Senin, 24 Agustus 2015

Yuk Buat Sendiri Yoghurt di Rumah

21.37.00 0 Comments

Hi... Bikin apa kita kali ini? Katanya sih ya kalau lagi berbadan double terjadi perubahan hormon yang kemudian bisa mempengaruhi mood seorang wanita. So, sebenernya sih lagi males bikin ini itu. Tapi berhubung udah kepengen pake banget bisa ngemil yoghurt setiap hari, akhirnya rasa males harus di basmi.

Konon katanya Yoghurt memiliki banyak manfaat, bahkan untuk ibu hamil. Kebetulan saya suka banget sama minuman yang satu ini, dari dulu mau bikin masih ragu lantaran di Banjarmasin ini sulit

Jumat, 21 Agustus 2015

Saya Rindu Melukis Cahaya | Taman Bacaan Masyarakat Sebagai Pendidikan Informal Anak

11.18.00 0 Comments

Saya rindu, rindu sekali. Bukan hanya merindukan riuhnya kota Jakarta, bukan hanya merindukan orangtua saudara dan teman-teman. Namun saya merindukan Cahaya. Lebih rindu lagi untuk melukis cahaya.

Melukis cahaya adalah istilah yang saya sampaikan kepada teman-teman di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Cahaya FLP Depok. Saya yakin tidak ada satupun pena ataupun pewarna yang sanggup menghasilkan cahaya yang nyata. Maka bagi saya melukis cahaya adalah melakukan sebuah kegiatan yang bermanfaat sehingga menjadi cahaya terang bagi siapa saja.

Sejak tinggal di Banjarmasin ikut dengan suami saya, saya tidak pernah berhenti “merengek” untuk segera membuka taman bacaan kami sendiri. Banyak hal kami diskusikan bersama. Dari mulai Bagaimana? Untuk apa? Dan sebagainya.

Bagi suami saya, hidup ini harus bermanfaat dan terutama melakukan segala sesuatunya karena Allah. Artinya setiap yang kita lakukan nantinya akan menjadi ibadah. Saya setuju, namun mengadakan TBM dirumah saya memiliki

Rabu, 19 Agustus 2015

Tuhan Izinkan Aku Mengeja Cinta-Mu Part 2

12.00.00 0 Comments

Kata orang lima tahun pertama pernikahan adalah masa yang paling berat. Hari ini tujuh bulan tujuh hari usia pernikahan saya dan suami. Masih jauh menginjak lima tahun. Namun berat rasa pernikahan yang kami jalani, bukan lantaran proses adaptasi kami yang memang baru saling mengenal. Namun beratnya pernikahan kami lantaran adanya gangguan itu.

Gangguan yang datang di hari kedua usia pernikahan kami. Saat kami sedang memadu kasih berdua, muncul pihak ke tiga yang mengacaukan moment romantis kami. Ah, jangan duga ornag ketiga itu adalah wanita yang mengetuk pintu rumah kami sambil menangis dan memegangi perutnya yang buncit. Insya Allah suami saya lelaki baik-baik.

Pihak ketiga yang muncul tidak dapat dilihat mata namun gangguannya nyata. Musuh utama manusia sejak Nabi Adam pertama kali diciptakan Allah sebagai menusia pertama. Syaitan.

Awalnya saya ragu

Senin, 17 Agustus 2015

Tuhan Izinkan Aku Mengeja Cinta-Mu Part 1

21.01.00 0 Comments

Di hari kemerdekaan indonesia yang ke-70 ini usia pernikahan saya dan suami memasuki usia 7 bulan 6 hari. Usia yang masih terbilang sangat muda bagi usia pernikahan. Namun entah bagaimana dengan pernikahan orang lain, hanya saja saya merasa pernikahan kami begitu berat dijalani.

Sejak memutuskan tidak ingin pacaran sebagai jalan memilih calon pendamping hidup, saya sempat dihinggapi ketakutan akan menjomblo seumur hidup. Pasalnya saya merasa diri saya serba kekurangan. Baik secara fisik maupun secara non-fisik. Hingga suatu hari salah satu sahabat saya meninggal di usia muda, saya merenung. Kata orang ‘Manusia terlahir hidup, mati, rezeki dan jodohnya sudah diatur oleh Dia Yang Maha Pencipta’, saya setuju. Namun kata orang selanjutnya adalah ‘Jadi jangan takut setiap orang ada jodohnya’, saya tidak setuju. Kemudian kata-kata ini meluncur begitu saja dihati saya “Tuhan, jika memang tidak Engkau siapkan jodohku di dunia maka biarlah. Mungkin yang Engkau inginkan adalah aku total mncintai-Mu saja tanpa membaginya”.

Tidak lama setelah berucap demikian, tawaran-tawaran untuk mencoba perkenalan secara Syar’i untuk menujuh pernikahan yang disebut Ta’aruf datang kepada saya. Namun menikah urusan hati, bukan urusan umur yang tidak lagi belia, atau sekedar urusan agar lebih mudah menjawab pertanyaan “Kapan Nikah?”

Rabu, 29 Juli 2015

Kemudahan Berbelanja Dengan Adanya COD

18.29.00 0 Comments

Kata orang jawa dulu, ada pepatah yang mengatakan “Kalau suami masuk ke sarang buaya sekalipun, istri juga harus mau ikut”. Bukan sarang buaya yang sebenarnya tentu saja. Namun pepatah ini adalah sebuah nasehat bahwa kemanapun suami pergi, hendaknya sang istri mengikuti sebagai bukti bakti.

Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa suatu hari saya akan meninggalkan kota metropolitan, Jakarta. Sudah dua puluh lima tahun saya berdamai dengan Ibu Kota yang memiliki kesibukkan yang luar biasa. Setidaknya meski sibuk, di kota ini bisa jadi semua tersedia. Dari makanan sampai barang-barang yang entah darimana asalnya.
Sekarang, sebagai bukti bakti saya kepada lelaki yang belum lama ini menjadi suami saya, saya harus ikut kemana dirinya pergi. Dan Banjarmasin menjadi tempat tinggal saya, meninggalkan hiruk pikuk ibu kota.

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Borneo. Rasa asing tanpa keluarga, tanpa teman, dan terlebih tanpa kenyamanan mengakses banyak hal seperti hal nya di Jakarta dulu. Untuk memperoleh sesuatu saya kesulitan. Bukan hanya karena belum mengenal dengan baik kota Banjarmasin, tapi juga ternyata disini memang tidak selengkap di

Kamis, 29 Mei 2014

Ini dia Oleh-oleh Dari Rumah Mba Ifa Avianty

21.31.00 0 Comments
Tahukah kamu? Manusia diciptakan berbeda satu sama lain? Tuiiiiing....Tetiba sendal melayang disaut teriakan "YA IYALAAAAAAAH". Hehehehe...

Setiap manusia beda kepala, beda cara berpikir, beda pengalaman dan pastinya beda action. Nah hari ini bersama beberapa teman-teman FLP Depok lainnya (Igit, Mba Galuh, Dhita, dan Bening) gue berkesempatan mampir ke rumah salah satu penulis senior yang asli lucuuuuu bingits, Ifa Avianty. Kok lucu sih pit? Ya iyalah, buku karyanya udeh berjibun di toko buku tapi gue baru tahu kalau beliau yang satu ini suka malu liat bukunya mejeng di rak-rak toko buku. Ekspresi memperagakan saat malu itu juga lucuuuuu, hihihi...

Nah, dari kunjungan hari ini gue juga berhasil mengulik proses kreatif dari penulis buku Home, Facebook on Love dan Ranu. Ternyata mba unyu yang satu ini punya cara khusus untuk membangun tokoh dalam ceritanya. Yups,

Kamis, 22 Mei 2014

Kacamata Yang Lain...

21.47.00 0 Comments

dua perkataan dari dua guru gue di masa SMK yang sampai saat ini masih terngiang dan melekat kuat. Salah satunya adalah guru mata pelajaran Kewirausahaan Bapak MPA Saputra. Kata-kata beliau yang masih saya ingat bahkan menjadi doktrin kuat adalah "Kalian jangan pernah berpikir mencari pekerjaan setelah lulus sekolah. Tapi cobalah berpikir membuat lapangan pekerjaan. Minimal untuk kalian sendiri, dan lebih baik lagi kalau bisa jadi pekerjaan bagi orang lain."

Satu lagi kata-kata Bapak Zul Akmal saat memberikan motivasi di kelas. Gue lupa motivasi apa itu, tapi yang gue ingat adalah kata-kata setelahnya. Saat di buka sesi tanya jawab tidak ada satupun yang angkat tangan. Lalu kata beliau "Ini gak ada yang ngacung sudah mengerti atau bingung?" Gue yang terpancing pertanyaan beliau akhirnya tunjuk tangan. "Pak, saya sih sebetulnya ingin bertanya. Tapi kadang pertanyaan itu berputar di kepala saya dan kemudian saya temukan sendiri jawabannya."

Sambil melempar senyum khasnya

Minggu, 04 Mei 2014

Gerakan Buku Ramah Anak Muslim | Part 2

21.12.00 0 Comments

Setelah sebelumnya saya memposting catatan tentang kegundahan saya mengenai buku bacaan anak, tadi siang alhamdulillah telah kami (saya, Kak Bening, Kak Galuh) rampungkan sebuah konsep secara matang tentang gerakan ini. Pada dasarnya ini hanya sebuah bentuk gerakan saja, jadi tidak akan mengarah pada pembentukan organisasi dsb. Dan kami sangat berharap kemudian tanpa adanya struktur membuat masyarakat secara menyeluruh merasa memiliki gerakan ini. Jadi siapapun bisa berpartisipasi di dalamnya, seperti gerakan "KOIN Untuk Prita" yang dulu sempat ramai.

LATAR BELAKANG
Semua ini sebetulnya berasal dari kegundahan saya selaku pengelola TBM, tante, kakak, calon Ibu, atau sekedar orang biasa yang punya kecintaan pada buku. Semangat membaca dan mencintai buku ini saya ingin tularkan kepada semua orang, sebab dengan membaca banyak hal bisa kita ketahui. Bahkan sebetulnya membaca di jaman sekarang bukan lagi tentang buku.

Melalui TBM Rumah Cahaya FLP Depok

Jumat, 20 Desember 2013

Pelaku Socialpreneurship

23.52.00 0 Comments

Teruntuk diriku sendiri di masa yang akan datang. Seberat apapun realita hidup, kamu adalah pelaku sampai mati bukan pelaku yang terganti~22:41


Setelah kita memprotes sesuatu, tanyakan pada diri sendiri “Lalu apa yang bisa saya lakukan?” ~Silverus Oscar Unggul


Quote di atas adalah sepenggal inspirasi yang berhasil saya dapatkan dalam Talkshow yang bertajuk “Muda, Kaya, Bermanfaat, Menuju Indonesia Berdaya” dalam rangkaian event Gelar Karya Wirausaha Sosial di Depok Town Square yang juga di hadiri oleh artis Teuku Wisnu.


Saya selalu percaya, bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Karena semuanya sudah ada Dia yang mengatur. Dan langkah saya yang semula hanya ingin mencari makan siang bersama sahabat saya di Detos, menjadi sebuah perjalanan yang menjadi sumber inspirasi tulisan ini.

Selesai santap makan siang, saya bersama sahabat sepakat untuk melihat-lihat acara yang sedang berlangsung di panggung utama. Setelah mampir ke toko buku lumayan cukup lama, kami pun turun ke lantai satu.

Saat sampai di bawah,

Jumat, 06 September 2013

Melukis Cahaya

13.02.00 0 Comments
Dua tahun belakangan ini saya memang cocern  sekali mengurusi Taman Bacaan Masyarakat yang dikelola oleh Forum Lingkar Pena (FLP), Rumah Cahaya. Bagi saya, mengelola TBM seperti menemukan wadah bagi segala mimpi saya. Mungkin karena ketidaksengajaan saya menjadi mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jiwa sosial terpupuk secara tidak sengaja juga pada diri saya.

Awal saya bergabung di FLP Depok, kantor sekretariat nya merupakan Rumah Cahaya yang dikelola oleh BPP diperbantukan oleh anggota FLP Depok. Awalnya saya mengira Rumah Cahaya tersebut adalah milik FLP Depok. Tapi kemudian saya tahu, karena kebetulan bangunan wakaf yang di fasilitasi Dompet Dhuafa (sekarang Tabung Wakaf Indonesia) untuk FLP melalui Bunda Helvy Tiana Rossa berada di Depok, sebagai cabang terdekat FLP Depok lah yang mengambil manfaat ini. Tapi secara tegas, Rumah Cahaya di Jl. Keadilan adalah milik seluruh anggota FLP, sehingga cabang/wilayah manapun berhak untuk menggunakannya.


Singkat cerita

Kamis, 05 September 2013

Anugerah Pena "Kategori Cabang Terpuji"

17.46.00 0 Comments


Saya mau sedikit bercerita tentang sedikit kronologi Penghargaan Pena yang di raih oleh FLP Depok kategori FLP Cabang Terpuji. Semoga bisa menjawab beberapa tanda tanya dalam benak pembaca sekalian (cieeee :p)

Malam minggu (31 Agustus 2013) di Hotel Green Villas Bali, saya seperti di malam-malam sebelumnya sedang berkeliaran di luar ruang aula. Sebetulnya di ruang aula sedang ramai pemilihan ketua baru Forum Lingkar Pena (FLP) untuk masa jabatan 2013-2017. Saya tergolong orang yang hyperaktif. Tidak betah duduk manis dalam forum resmi. Maka hanya bagian-bagian penting (menurut saya) saya muncul dan berpartisipasi (contoh pengambilan suara).

Biasanya dalam aktifitas "grilya" saya sasaran saya adalah panitia yang sedang bertugas maupun yang sedang istirahat. Entah mereka suka atau tidak, saya senang sekali mengajak mereka bercanda untuk menghilangkan penat, mengusir kantuk, dan mengisi waktu. Yang pasti saya senang tertawa bersama dengan mereka.

Sampai akhirnya, datanglah Mba Lia menawarkan sebuah "tugas" untuk saya. Tugas tersebut adalah membacakan nominasi untuk penghargaan pena. Well, karena berhubungan dengan panggung dan Mic, gak ada masalah jadi saya terima tugas tersebut.

Mba Lia memberikan saya secarik kertas berukuran kira-kira 15 x 5 cm dengan tulisan kurang lebih begini

"Kategori Cabang terpuji (penghargaan akan diserahkan oleh Habiburahmah El Shirazy)
Perkenalkan Kami ...... dari .... akan membacakan nominasi untuk penghargaan FLP Cabang terpuji. Dan Nominasinya adalah....."

Jumat, 29 Maret 2013

Curhat De: Benang Merah...

22.34.00 0 Comments

"Apakah tidak cukup cinta saja sebagai pondasi pernikahan?"

Salah satu dialog dalam Film Test Pack terus terngiang di telinga saya. Banyak orang menikah karena saling mencintai. Kemudian di perjalanannya cinta itu pudar atau bercabang, tidak lama berpisah dengan alasan "sudah tidak ada kecocokan". Lantas jika saya tidak memilih menikah karena adanya rasa saling mencintai, alasan apa yang saya pilih untuk menikah?

Dulu, saya mendambakan pangeran berkuda putih (dalam kasus saya pangeran bersepedah ontel) datang menawarkan kehidupan happy ending seperti dalam dongeng-dongeng cinderella. Tapi seiring berjalannya waktu, menyaksikan orang-orang di sekitar saya menikah dan kemudian setelah itu banyak terjadi konflik, saya sadar ini bukan pernikahan cinderella. Sayangnya dongeng-dongeng yang ada hanya bercerita sampai pangeran menikah dengan cinderella dan di tutup dengan kalimat "akhirnya mereka pun hidup bahagia bersama, selama-lamanya".

Seiring waktu, konsep menikah dalam kepala saya mengalami perubahan. Dari sosok pangeran, kekasih hati, pendamping hidup, dan sekarang berada pada titik teman seperjuangan.

Menikah dalam konsep berpikir saya saat ini bukan semata karena tuntutan sosial. Pada alur (normal masyarakat) seseorang hidup, sekolah, kuliah, lulus, kerja, kemudian menikah, punya anak, punya cucu, dan seterusnya sampai menunggu adanya panggilan dari-Nya. Tapi toh orang-orang tidak selalu memiliki arus yang sama.

Jadi, kembali saya bertanya pada diri saya sendiri. Kenapa kamu ingin menikah?

Satu persatu jawaban masa lalu muncul. Tapi buru-buru saya koreksi dan eliminasi beberapa. Sampai pada kesimpulan yang sudah ada sejak dulu, bahwa pernikahan saya adalah sebuah misi dakwah. Dulu konsep dakwah dalam pernikahan masih abstrak di kepala saya. Namun sekarang Insya Allah sudah jelas.

Mungkin saya bukan ustadzah yang pergi dari satu pengajian ke pengajian yang lain. Dakwah tidak hanya di masjid. Dalam konsep dakwah saya, dakwah adalah menyebarkan kebaikan sebagai agen Islam (yaitu agama yang Rahmatan lil alamin). Sebagian orang ada yang melakukan dakwah sebagai aktivis Islam, turun ke jalan, menjadi 'guru' di lembaga-lembaga islam dsb.

Dengan aktifitas yang saya miliki sekarang, kriteria pendamping hidup mengalami perkembangan dengan sendirinya. Dari pemuda soleh yang kelak bisa membawa menuju Jannah-Nya, kriteria yang saya harap berkembang menjadi:

1. Soleh, yang ini jelas sudah harga mati. Karena saya ingin suami yang tidak pernah berhenti mengajak saya untuk terus mencintai-Nya.

2. Bertanggung jawab dan pekerja keras. Rezeki sudah ada Allah yang mengatur. Namun hanya akan di jemput oleh orang yang memiliki tanggung jawab dan mau bekerja keras.

3. Memiliki jiwa sosial. Karena repot juga kalau suatu hari nanti saat saya mau pergi bakti sosial suami bilang "Ngapain sih kamu repot-repot ngurus orang. Di rumah ajah!" dan saya hanya duduk di sudut dapur sambil mengelap air mata dengan Lap >.

Well, menikah sama kayak OVJ harus ada benang merah dengan pasangan. Benang merah ini bukanlah kesamaan hobi, makanan kesukaan dsb. Tapi kesamaan Visi dan Misi. Karena kalau sekedar kelebihan dan kekurangan, justru hadirnya pasangan hidup adalah untuk melengkapi.

Jadi menikah bagi saya adalah menemukan partener dakwah. Dimana saya bisa suport dakhwahnya dan begitu pun sebaliknya. Kami bisa saling berbagi dan bertukar pendapat. Jadi sampai menemukan yang tepat, saya akan setia menunggu...^^

***
@Kamar_Buku13 September 2012/ 10:33 PM

Curhat De: Langkah...

22.32.00 0 Comments


Hm... ini sudah tahun ke lima sepertinya saya melalang buana bersama Risma. Soulmate tercinta yang selalu setia menemani kemana saja. Namun perjuangan bersama Risma beberapa tahun ini terasa luar biasa. Kalau dulu Risma hanya mengantar saya kuliah, dan pergi ke berbagai seminar, belakangan Risma banyak berkontribusi dalam mengembangkan TBM yang sedang kami bangun.

Sesekali sempat mengeluh juga harus berduaan dengan Risma di jalanan yang tidak bersahabat. Kadang panas terik luar biasa, kadang harus kuyup karena kehujanan. Kadang saya pun berandai pula punya mobil, tapi biasanya saya buru-buru tepis keinginan itu. Karena saya suka mabok kalau naik mobil :D

Rabu (19/9/2012) saat pulang dari kampus menuju Rumah Cahaya FLP Depok, saya berpapasan dengan mobil Suzuki APV berwarna hitam. Bukan mobilnya yang membuat saya memperhatikan. Tapi karena di mobil tersebut di pasangi sticker "MOBIL OPERASIONAL TAMAN BACAAN MASYARAKAT KOMUNITAS *****". Beberapa waktu lalu saya sharing dengan teman mengenai TBM yang di kelola oleh pemerintah ini. Menurut teman saya, TBM tersebut tidak terlalu produktif. Melihat mobil tersebut saya jadi berpikir "Enak bener bisa punya mobil operasional."

Sekarang ini aktifitas TBM lumayan banyak. Disaat kami pergi bersama, kendaraan merupakan masalah utama kami. Karena tidak mungkin semua harus saya ajak bersama naik Risma. Alternatif yang kami ambil biasanya dengan rental mobil. Tapi biayanya gak murah :(

Kebutuhan kendaraan operasional ini pun saya rasakan perlu ketika ada hal-hal yang harus dibeli. Seperti misalnya saat saya dan Mba Galuh harus ke Asemka membeli perlengkapan sekolah untuk anak-anak korban kebakaran. Naik Risma pegel luar biasa. Dan kami pun memilih naik kereta. Tapi rupanya membeli paket buku tulis untuk 300 anak bukan sesuatu yang ringan. Ahad (16/09/2012) pikiran kami di kaburkan entah karena apa. Harusnya kami membeli buku untuk 300 anak, baru kebeli untuk 40 anak. Itupun sudah luar biasa berat membawanya. Harus jalan dari asemka menuju stasiun kota dengan membawa 24 pak buku.

Tapi bukan kehidupan jika tidak ada hikmahnya. Di dalam kereta saya merasa ada yang aneh, lalu saya ajak mba galuh untuk menghitung ulang. Ternyata benar kami kurang membeli buku. satu anak targetnya adalah 5 buku x 300 anak = 1500buku. Satu pak isinya 10, artinya kami harusnya membeli 150 pak bukan 24 pak.

Dan disinilah hikmahnya. Kalau kita ingat untuk beli 150 pak, PR nya tambah banyak. Pertama bagaimana cara membawanya, dan kedua bagaimana harus membayarnya. Karena dana nya juga tidak cukup.

hikmah lainnya adalah, saat saya sedang asyik menghitung bersama mba galuh ada orang yang bertanya perihal belanjaan di depan kami. Kami jelaskan ini untuk bantuan kemanusiaan. Dan saat kami turun dari kereta, seorang mba-mba menitipkan amanah Rp 50.000,- melalui saya. Allah Akbar!!

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustai?

Kembali ke cerita mobil operasioanal, sesampainya saya di Rumah Cahaya saya cerita kepada mba Galuh.

"Tau gak pit. Di jaman Rasul dulu ada seorang buta yang bertanya kepada Rasulullah. Ya Rasulullah, aku ini buta. Sangat sulit bagiku untuk datang ke masjid dan shalat berjamaah. Bolehkah aku solat di rumah saja. Kemudian di jawab oleh Rasulullah, Sesungguhnya dalam setiap kesulitan yang kau temui saat berangkat menuju masjid akan dihitung pahala bagimu. Maka orang buta itu pun memutuskan solat berjamaah di masjid. Tapi suatu hari ada pemuda yang berbaik hati menawarkan untuk menggendong seorang buta tersebut ke masjid. Setiap hari pemuda itu menggendong orang buta itu menuju masjid. Sampai akhirnya di tanyakan siapakah seseungguhnya kau anak muda?. Pemuda itu terdiam, tapi berkali-kali di tanya akhirnya pemuda itu menjawab, sebetulnya aku adalah iblis. Aku membantumu karena tidak rela melihat kau lebih banyak mendapatkan pahala saat berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah."

Saya terdiam sejenak mencerna kisah yang kata mba Galuh Sahih tersebut. Tidaklah selamanya kemudahan itu baik bagimu. Dan tidaklah selamanya kesulitan itu buruk bagimu. Saya seringkali lupa, bahwa bukan hasil akhir yang di nilai oleh Allah. Tapi merupakan proses lah bagaimana kita bisa terus istiqomah.

***
@Kamar_Buku
21 September 2012
08:09 AM

Curhat De: Selamat Menempuh Hidup Baru...

22.30.00 0 Comments




Pagi ini kuucapkan “Selamat Menempuh Hidup Baru” pada diriku sendiri. Bukan lantaran aku telah melepas status sebagai anak kemudian berganti menjadi seorang istri, atau bahkan yang lebih mengerikan aku telah bangun dari kematian sementara.

Hari ini hari rabu. Tetapi rabu yang berbeda dengan rabu-rabu yang lalu. Sekarang pukul 07:44 WIB (saat aku menulis ini), tapi tentu saja pukul 07:44 WIB hari ini berbeda dengan 07:44 yang kemarin, kemarin lusa, seminggu lalu, sebulan, atau setahun lalu. Terima kasih pada sebuah peristiwa yang mengajarkan kepadaku bahwa hari ini adalah hari yang berbeda dari hari lalu, sehingga aku harus selalu mengucapkan “Selamat Menempuh Hidup Baru” pada diriku setiap harinya.


Kemarin aku boleh menangis pada suatu hal. Kemarin pula aku boleh tertawa karena suatu hal. Maka hari ini aku harus menorehkan sejarah baru agar setiap hari aku menempuh kehidupan yang baru. Yah kalau kata mutiaranya sih “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”. Atau kalau kata hadist-nya merugilah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin. Kemarin aku tersudut dan menangis, hari ini aku harus bahagia.


Baru kemarin aku menegarkan seorang sahabat saat dia sedang tersudut oleh keadaan yang mempertanyakan keikhlasan hatinya. Ku katakana padanya, bisa jadi ini adalah cara Allah mempertanyakan istiqomah dari keikhlasan itu. Kalau kerikil secuil itu saja sudah meruntuhkan idealismenya untuk terus memperjuangkan kemaslahatan umat, bagaimana dengan tantangan yang lebih besar.


Nyatanya sekarang aku juga tengah tersudut oleh keadaan yang mempertanyakan keikhlasan hati. Satu yang aku takutkan dalam melakukan langkah ku saat ini , bahwa semua ini hanya egoisku saja. Atau jangan-jangan semua ini adalah awal kesia-siaan.


Aku ingat saat duduk di bangku sekolah, ketika semua orang menghapal rumus matematika, aku mencoba menjawab soal dengan caraku sendiri. Entahlah, benar atau tidak jawabannya aku hanya mencoba menyelesaikan dengan caraku sendiri.


Mungkin aku terlahir di jaman dan tempat yang tidak sejalan dengan cara berpikirku. Hanya ada dua pilihan. Mengikuti “Mau Mereka”, atau mengikuti “Mauku” atau dengan kata lain “Kata Hatiku”.


Aku memilih yang kedua, dan bukan tanpa tantangan aku menjalaninya. Tekanan demi tekanan tentang cara “nyelenehku” dalam mengisi kehidupan ini terus berdatangan.


Aku punya kewajiban dan tanggung jawab terhadap hidupku sendiri. Sebagai individu aku adalah makhluk tunggal yang punya tanggung jawab terhadap napas, jiwa, dan raga yang di beri Allah padaku. Dulu aku diam saja kehidupanku di arahkan dan di atur. Tapi sekarang aku ingin punya keputusan sendiri dalam hidupku.


Bukan kamu, dia, mereka atau siapapun yang akan ditanya tentang apa yang kulakukan di akhirat kelak bukan? Dan Insya Allah kalaupun di tanya sepertinya bukan seputar “Sudahkah kamu menikahkan anakmu/sahabatmu sebelum di labeli perawan tua oleh masyarakat?” atau “Sudahkah anakmu/sahabatmu menggunakan toga sebelum di labeli oleh universitas sebagai mahasiswa abadi?”


Setidaknya mungkin yang akan mereka tanyakan kepada kamu, dia, mereka adalah “Sudahkah kamu nikahkan anakmu kepada suami/istri yang baik agamanya?” atau “Sudahkah anakmu dibekali ilmu agama?” atau “Sudahkah kamu memastikan anak/sahabatmu/suami/istrimu tidak melakukan hal-hal yang melanggar perintah Allah?” atau “Sudahkah kamu mengingatkan anak/sahabatmu/suami/istrimu ketika dia telah keluar dari jalan Islam?” Entah benar atau tidak tapi yang aku yakini demikian.


Dalam hidup ini hanya ada dua kemungkinan, gagal atau sukses. Keduanya sama pentingnya bagiku. Kalau kamu sukses dan bertambah syukurku maka itu yang aku rasa Dia inginkan. Kalaupun gagal dan paham pula apa hikmah dari semuanya, maka itu juga yang aku rasa Dia inginkan. Gagal setelah mencoba, itu setidaknya baik untukku. Karena aku tidak ingin menjadi orang yang telah tersedia taxi di depan pintu untuk membawaku pergi mengejar apa yang aku cita-citakan tapi kemudian aku hanya berdiri di depan pintu sambil melihat supir taxi yang kesal pergi berlalu. Kemudian di masa tua saat orang-orang yang mengutuki cita-citaku sudah tidak lagi di sampingku, aku hanya duduk sendiri dan menyesali masa lalu. Di usiaku sekarang ini sudah terlalu banyak yang kusesali, dan aku tidak mau ada penyesalan lain yang menyusul kemudian.


Selamat menempuh hidup baru.Hari ini di dalam hati terdapat jiwa yang baru. Satu yang hanya perlu kau harapkan, yaitu menggapai Ridho-Nya. Maka semua itu telah tercukupkan bagimu.

Curhat De: Dear Mama...

18.41.00 0 Comments




Mama... Mungkin suatu hari nanti saya akan melihat teman-teman saya mengendarai mobil mewah, sementara saya hanya punya mobil sederhana yang cukup nyaman untuk kita pakai sekeluarga dan bermanfaat untuk umat...

Mama... Mungkin suatu hari nanti saya akan melihat teman-teman saya punya rumah mewah dengan pagar tinggi, sementara saya hanya punya rumah sederhana yang dipenuhi dengan buku yang pintunya selalu terbuka lebar untuk siapa saja...

Mama... Mungkin suatu hari nanti saya akan melihat teman-teman saya di panggil "BOS", semantara saya hanya menyandang panggilan "Kak Pita" dari celoteh anak-anak dengan wajah sumringah mereka...

Suatu hari jika saya melihat itu semua, saya hanya ingin tersenyum dan mensyukuri jalan hidup yang berhasil saya wujudkan atas ridhomu. Bukan emas permata yang ingin saya cari dalam hidup ini, tapi sungguh kebahagiaan atas apa yang telah saya berikan kepada orang lain.

Mama... bukanlah dengan menjadi pegawai hidup saya akan terjamin. Tapi dengan mendekat pada-Nya lah akan terjamin diri saya ini. Saya sudah menerima banyak dari-Nya, saya balas dengan memberi kepada orang lain. Memberi yang tidak banyak, tapi sungguh kembali dibalas oleh-Nya dengan sesuatu yang luar biasa.

Mama... Jika suatu hari tetangga atau sanak keluarga berkata ini dan itu bermaksud mempengaruhimu, cukup beri senyummu. Senyum yang mengandung arti "Saya bangga terhadap anak saya. Dia dapat dipercaya, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya."

Mama... Bukan tetangga atau siapapun yang membuat saya memilih jalan hidup ini. Tapi karena jelas di hadapan saya, Bapak memberi contoh dengan banyak memberi. Tidak mampu dengan materi, tapi dengan tenaga dan pikiran. Darah itulah yang mengalir ditubuh saya. Semangat itu juga yang mengalir di tubuh saya.


Mama... aku selalu...selalu...dan selalu ingin membuatmu bangga akan diri ini. Tapi izinkan saya membuatmu bangga dengan cara saya sendiri <3<3<3